Kamis, 07 Oktober 2010

YESUSKU TABIB YANG AJAIB - KESAKSIAN IBU KETTY LIGIANTO (UJUNG PANDANG)

Shalom pasukan doa!

Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

Pada awal tahun 1999 saya telah menyaksikan di kebaktian kaum Wanita
bahwa, anak saya mengalami kecelakaan tetapi selamat berkat
pertolongan Tuhan dan saya tidak merasa takut waktu mendengar kabar
dari Rumah sakit. Saya hanya berdoa mengucap syukur berterima kasih
kepada Tuhan sebab saya sangat yakin Tuhan ada bersama anak saya.
Tuhan pasti sudah menolong dia, karena satu minggu sebelum anak saya
kecelakaan, Tuhan sudah menyatakan kemuliaanNya yang indah. Sewaktu
saya berdoa saya melihat malaikat-malaikat kecil dengan memakai baju
putih meniup sangkakala bergandengan tangan, terbang di atas atap
rumah saya berputar-putar dan baju mereka terbang ditiup angin.
Penglihatan ini sangat indah dan menguatkan saya. Waktu berdoa itu
saya hanya mengucap syukur dan berterima kasih berulang-ulang dan
Tuhan menyatakan kemuliaanNya.

Pada tanggal 31 Januari 1999, kembali waktu saya berdoa mau tidur
malam, begitu saya tutup mata, untuk kesekian kalinya Tuhan
menyatakan kemuliaanNya. Saya dikaruniai penglihatan secara rohani,
di atas kepala atapnya (plafond) dalam kamar saya terbuka seperti
pintu dan ada cahaya yang sangat terang memancar ke tubuh saya yang
lagi berdoa. Saya tidak bisa tidur, kembali mengucap syukur berterima
kasih kepada Tuhan untuk penyataan itu, begitu baiknya Tuhan kepada
saya pribadi.

Begitu juga, kalau akan ada sesuatu yang akan terjadi, Tuhan sudah
ingatkan lebih dahulu kepada saya melalui penglihatan atau mimpi-
mimpi. Sungguh ajaib Tuhanku.

Pada bulan Maret saya ada mencoba minum obat pelangsing, tetapi pada
hari ke empat saya minum, perut saya mulai terasa sakit di sebelah
kiri. Saya berhenti minum obat ini, saya ke dokter kandungan, dan
yang ada dalam pikiran saya pasti ada "cista" di perut ini yang sudah
pecah atau bertambah besar. Apa yang saya pikirkan bukan itu yang
Tuhan berikan. Sebab apa yang tidak pernah kita duga, itulah yang
Tuhan berikan.

Begini awal mula penyakit saya. Pada tahun 1994 akhir saya datang
bulan dan selama menstruasi perut ini sangat sakit sampai sebelah
kiri. Setelah ke dokter, dokter katakan, ada cista di perut sebelah
kiri (hasil USG) hanya dengan operasi baru sembuh. saya hanya
berserah pada Tuhan. Bulan Juli 1995, saya sekeluarga jalan-jalan ke
Singapura. Saya cek up kembali di dokter kandungan, dan setelah di
USG, ternyata cista itu masih ada. Dokter di sana menyarankan saya
harus di haporoskopi yaitu : dokter akan membuat lubang 3 buah di
perut dan melalui sinar laser penyakit dalam perut itu akan
dihancurkan.

Malamnya saya berdoa, Tuhan, Engkau yang akan menghancurkan penyakit
ini dengan DarahMu. Besok hari saya putuskan tidak mau kembali ke
dokter. Saya datang sekeluarga ke Singapura untuk berlibur bukan
untuk tinggal di Rumah Sakit. Saya percaya Yesus selalu ada bersama
saya. Kembali pada tahun 1996, saya cek up kesehatan di Dokter
spesialis penyakit dalam dan hasil USG kembali menunjukkan penyakit
ini masih ada, dokter bilang kenapa tidak di operasi saja ?

Saya diam, saya tidak menjawab., sebab masih ada harapan bagi saya
bahwa Yesus sanggup menolongku. MujizatNya selalu dinyatakan kepada
keluarga saya.

Bulan Juni 1999, ibu saya menelepon saya dari Manado dan mengatakan
bahwa ada teman-temannya yang berdoa bersama-sama ibu saya dan dalam
doa itu ada nubuatan tentang saya, katanya saya di Ujung Pandang lagi
sakit perut sebab ada cista dalam perut saya tetapi Tuhan akan
menyembuhkan katanya. Hanya dengan iman saya aminkan nubuatan ini
kalau benar dari Tuhan. Kalau cobaan ini ada rencana Tuhan saya
menerimanya walau sakit, saya rela menderita bersama Yesus. Saya
hanya mengucap syukur dan berterima kasih atas cobaan ini. Saya mulai
mengingat-ingat Firman Tuhan yang pernah saya baca bahwa Tuhan akan
melalukan segala penyakit bagi orang yang percaya dan melakukan
FirmanNya. Tuhan tidak akan membiarkan kita tergeletak, tanganNya
pasti akan menopang. Dan Tuhan sudah memberi kuasa kepada kita dan
kita akan melakukan perkara-perkara besar, bahkan yang lebih besar
daripada yang sudah pernah Tuhan lakukan.

Puji Tuhan. Selama mengiring Tuhan banyak-banyak masalah dan cobaan
yang datang pada keluarga saya tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan
kami. Tuhan selalu menjawab doa-doa saya.

Banyak sekali mujizat yang Tuhan adakan pada keluarga saya. BerkatNya
melimpah, baik jasmani terutama berkat-berkat rohani. Tuhan sangat
baik, begitu dalam kasihNya pada keluargaku, tanganNya tidak kurang
panjang untuk menolong dan menjamah setiap masalah dan pencobaan yang
datang.

Saya sangat yakin Tuhan tidak akan membiarkan keluargaku dipermalukan
karena mengiring Dia. Saya selalu berserah kepada Tuhan, minta ampun
dosa salah dan kekurangan saya dengan hati yang hancur. Saya menagih
janji Tuhan yang terdapat di dalam Yohanes 14:14, "Jika kamu meminta
sesuatu kepadaKu, Aku akan melakukannya." Saya mengatakan
kepadaNya: "Tuhan, cobaan ini berat, rencanaMu yang jadi Ya Tuhan,
sebab rencanaMu, indah, Engkau menjanjikan masa depan yang penuh
harapan."

Dunia boleh merancangkan kejahatan tetapi Tuhan selalu dan selalu
merancangkan kebaikan. Saya percaya kepada janji-janji Tuhan. Kadang-
kadang sambil memasak atau bila ada di mana saja saya suka berbicara
dengan Tuhan. Saya juga berkata kepada iblis, "Hai iblis, engkau di
bawah telapak kakiku, engkau tidak berhak mengganggu kesehatan saya
sebab saya ini adalah milik Tuhan Yesus. Saya tumpang tangan diperut
yang sakit, saya percaya Tuhan akan menyatakan mujizatNya.

Menjadi kekuatan saya selalu kalau berada dalam masalah atau cobaan,
saya berdoa dan minta jawaban dari Firman Tuhan. Dan selalu begitu
membuka Alkitab, Tuhan langsung tunjukkan ayat-ayat yang indah yang
menguatkan. Kali ini yang saya dapat baca yaitu dalam Kitab Daniel
2:19,20. Daniel mendapat penglihatan dan memuji-muji Allah. Saya
terus ingat penglihatan waktu yang lalu, saya langsung memuji-muji
Tuhan. Rasanya cobaan ini menjadi ringan kalau bersama Tuhan. Tuhan
memberi hikmat dan pengertian pada saya.

Pada tanggal 19 Juli 1999 saya ke dokter kandungan. Saya katakan
kepada dokter, cista ini kambuh lagi. Saya sering sakit perut. Dokter
bilang operasi saja, angkat semua alat-alat reproduksi dan
menyarankan saya USG. Waktu pagi-pagi menunggu di ruang tunggu,
sementara menunggu giliran untuk di foto, saya duduk sambil menyanyi-
nyanyi dalam hati, saya mengucap syukur terus kepada Tuhan, dan
heran, saat itu saya merasa cobaan itu begitu ringan. Haleluya, Puji
bagiMu Tuhan.

Apapun yang dokter akan katakan sebentar, saya percayaTuhan adalah
tabib di atas segala tabib, tidak ada yang mustahil bagiNya. Dengan
iman saya yakin Tuhan Yesus sudah mengoperasiku. Saya akan mendengar
apapun yang akan dikatakan dokter dengan hati yang tenang, sebab air
sungai yang tenang dari surga sedang mengalir didalam hatiku.

Saya begitu tenang, tidak ada lagi ketakutan. Saya masih ketawa-
ketawa dengan suami saya. Dan biasanya kalau sementara USG, dokter
akan berbicara mengenai hasil foto yang sementara dia lakukan. Tetapi
kali ini dokter hanya berkata, anaknya ada berapa ? Oh kamu gemuk
sebab sudah lama suntik-suntik KB. Saya hanya menjawab iya. Saya juga
tidak berani bertanya, ada apa dilayar monitor USG itu ?

Sorenya, saya, suami dan anak-anak kembali ke dokter kandungan itu
untuk membawa hasil USG tadi pagi. Karena anak saya ingin tahu, dia
membuka foto-foto itu dan katakan, "mamie, semua normal, tidak ada
apa-apa mamie." Saya tidak mendengarnya, sebab pikiran saya hanya
tertuju kepada dokter yang akan menerangkan hasil USG itu. Waktu saya
dan suami di suruh masuk ke ruang periksa dokter dengan suara yang
nyaring berkata, "Tidak ada lagi cista, ini, lihat foto ini, sudah
hilang penyakit itu." Saat itu, air mata ini tidak terasa langsung
mengalir. Puji Tuhan ! Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Saya
katakan kepada dokter, "Saya sudah yakin, Tuhan pasti adakan
mujizatNya.

Sungguh ajaib Yesusku. Saya juga menyaksikan pada dokter mujizat-
mujizat yang sudah pernah Tuhan nyatakan pada waktu-waktu yang lalu
pada keluargaku. Lidah ini rasanya tidak mau berhenti mengucap syukur
kepada Tuhan. Memang benar, Tuhan hanya sejauh doa kita. Dengan rajin
berdoa, mencari wajahNya, dan yakin iman dapat mengalahkan segala
perkara, pasti Tuhan Yesus menolong. Hari-hariku terasa sangat indah
dan penuh sukacita berjalan bersama Tuhan. Semua indah pada waktunya.

 YAHOO

AJAIB! 12 PASANG IGA PATAH DAPAT BERTAUT KEMBALI

Shalom pasukan doa!

Pukul 05.15 WIB, 6 November 1999, saya (Yeyen), suami saya (Achin), dan anak bungsu kami (Vincent), hendak ke Gambir. Waktu itu kami berencana bertemu ibu saya di Bandung sebab ia sakit kanker payudara dan akan dibawa ke sinshe. Baru saja kami keluar dari gang, tepatnya di jalan arteri Palmerah, Jakarta Barat, sebuah mobil boks dari arah belakang tiba-tiba menyambar tubuh saya. Saya pun terjatuh ke arah trotoar dan kaki saya terlindas ban mobil.

"Minggir!" saya berteriak mencoba mengingatkan suami saya yang berjalan di depan. Namun karena kurang cepat bergerak, bress...! mobil yang sama menghantam muka suami saya sampai dia terjatuh. Sungguh mengerikan, suami saya jatuh ke arah jalan sehingga badannya masuk di bawah kolong mobil dan, kress...!, ban belakang mobil itu menggilas tubuhnya. Saya melihat dengan mata kepala sendiri ketika ban mobil itu menggilas dadanya dan menyeretnya sejauh kurang lebih 1 meter. Melihat kondisinya yang sangat parah, membuat saya lupa pada sakit saya sendiri. Spontan saya berteriak, "Tuhan Yesus, tolong! Tuhan Yesus, tolong!"

Mobil langsung lari tidak terkejar lagi. Saya hanya bisa jongkok di pinggir jalan sambil memangku suami. Karena lukanya sangat parah, tiba-tiba terlintas di benak saya, jangan-jangan suami saya umurnya tidak akan lama lagi. Karena pemikiran ini, saya seolah dituntun untuk mengatakan padanya demikian, "Kamu harus bertobat, minta ampun." Kata-kata ini saya sampaikan karena saya tahu, meski suami saya sudah Kristen dan dibaptis setelah 14 tahun kami menikah, namun ia jarang sekali ke gereja. Kalau saya ajak ke gereja, ia biasanya marah-marah bahkan mengajak bertengkar. "Pokoknya kamu harus minta ampun," kata saya berulang-ulang.

Tidak lama kemudian, taksi datang. Saya menyuruh anak saya, Vincent, untuk pulang. Di dalam taksi, kami ditemani oleh seorang tetangga. Sepanjang perjalanan, saya hanya bisa bernyanyi dan berdoa. Selain itu, saya terus meminta suami saya untuk bertobat, minta ampun pada Tuhan. Mendengar anjuran saya, ia memberikan respons. Dia berkata lirih, "Tuhan Yesus, ampuni saya." Saya pun menimpali, "Jangan berhenti panggil nama Yesus. Bilang, 'Darah Yesus tolong saya!'"

"Darah Yesus, darah Yesus, darah Yesus," kata-kata ini diulang-ulang suami saya hingga kami tiba di RS Pertamina.

Tiba di rumah sakit, suami saya langsung masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Ia langsung ditangani secara cepat. Kurang lebih 15 menit kemudian, hasilnya sudah dapat diketahui. Benar dugaan saya, kondisi suami saya memang betul-betul parah. Tulang rusuk bagian depan dan belakang, hampir semuanya patah. Dokter mengatakan, "Secara teori, seharusnya sulit untuk bertahan. Tidak ada kesempatan lagi." Kalau sebelumnya pada sepanjang perjalanan saya berdoa dan menyanyi, dan bisa menahan untuk tidak menangis, kini setelah tiba di rumah sakit, lebih-lebih setelah tahu hasil rontgen suami, air mata saya keluar dengan derasnya. "Tuhan, saya tidak kuat," bisik saya sambil menghubungi pendeta saya, Bapak Mulyadi Sulaeman. Pada saat saya mengatakan "tidak kuat", tiba-tiba ada suara yang berbisik, "Tuhan tidak akan mengujimu melebihi kekuatanmu." Saya pun berkata, "Tuhan kuatkan saya. Amin." Ketika selesai mengatakan hal itu, saya langsung mendapatkan kekuatan baru. Saya pun menjadi tegar.

Tidak berapa lama Pak Mulyadi datang. Kepada beliau saya berkata, "Om, tolong dijaga ya, saya sudah tidak tahan." Luka suami saya memang sangat parah. Celana jean yang ia pakai saat terjadi kecelakaan robek. Karenanya, wajar saja kalau kakinya penuh luka dan di pahanya ada luka yang sangat besar. Untuk mengeluarkan darah akibat paru-paru yang mengalami pendarahan, dada suami saya dilobangi. Pak Mulyadi sendiri, mungkin karena melihat harapan untuk hidup begitu kecil, dengan lirih ia menasihati, "Kamu yang sabar saja ya, Yen. Kalau Tuhan memanggil suamimu, kamu harus kuat." Saya mengangguk. Saya bisa memahami ucapannya karena memang menurut kalkulasi manusia, kemungkinan yang terbesar adalah kematian. "Om, saya pasrah. Saya rela suami saya dipanggil sekarang daripada menunggu nanti tapi belum bertobat. Kalau Tuhan mau panggil, panggillah," demikian jawaban saya penuh kepasrahan.

Kondisi suami saya betul-betul kritis. Paru-parunya tidak bisa bekerja dengan baik alias tidak bisa mengembang sehingga pernafasannya diatur oleh mesin. Mulutnya sudah tidak bisa berfungsi. Makanan dimasukkan lewat infus melalui satu lubang hidung, sementara lubang yang satunya untuk nafas. Leher juga dilubangi untuk "CPP", yang dipakai untuk mengontrol suhu tubuh. Melihat keadaannya yang seperti ini, pada hari ketiga dokter kembali berkata, "Ibu berdoa saja. Yang bisa menolong suami Ibu hanya imannya sendiri." Saya tahu kalau dokter sudah berkata begitu berarti harapan secara medis sudah tidak ada. Karena berdiri di dekat tempat tidur, suami saya dapat mendengar apa yang dikatakan sang dokter. Saya pun kembali menegaskan kata-kata dokter. Kata saya, "Kamu tidak usah khawatir. Seperti dikatakan pak dokter tadi, yang bisa menolong kamu itu hanya imanmu. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tuhan itu baik, kamu sekarang sebenarnya sedang ditegur Tuhan. Sekarang kamu bersyukur saja. Ampuni orang yang menabrak kamu."

Saya betul-betul heran dengan kata-kata saya sendiri, terutama seruan untuk mengampuni sopir yang telah menabraknya. Saya yakin hikmat itu datangnya dari Roh Kudus. "Sudah jangan ingat-ingat lagi. Kamu jangan marah. Saat kamu mengampuni orang yang menabrak, Tuhan Yesus pasti mengampuni kamu. Ketika dosa kita diampuni, maka apa yang kamu minta pasti Tuhan dengar, sebab penghalang doa kita menurut firman Tuhan tak lain adalah dosa kita," tegas saya lagi. Sejujurnya, antara iman saya dan kenyataan waktu itu bertentangan, tapi saya harus belajar beriman. Di ruang ICU saya tetap berdoa, menyanyi, dan membacakan Alkitab untuk suami saya. Kalau saya sedang menyanyi seluruh ruangan bisa mendengar. Mereka memandangi saya. Mungkin mereka membatin, "Bagaimana mungkin suaminya sakit parah ia masih bisa menyanyi?"

Hari terus bergulir. Setiap kali dokter jaga datang, saya selalu menanyakan kondisi suami saya. Jawaban dokter selalu sama, "Tetap saja, belum juga membaik." Suatu kali, saat saya mengajukan pertanyaan yang sama, jawaban dokter demikian, "Tunggu besok, ya. Kalau besok tidak panas berarti mendingan, tapi kalau panas itu artinya berbahaya." Esoknya suhu badan suami benar-benar panas hingga 40 derajat. Suster di belakang saya saling berbisik, "Wah, tidak mungkin hidup." Tapi suami saya dapat melewati masa kritis itu dan panas itu akhirnya turun. Saya terus berdoa. Mata saya benar-benar hanya tertuju pada Tuhan Yesus.
Hari keenam, pukul 09.00 WIB, keadaan suami kritis lagi. Suami saya pingsan. Untuk menyadarkannya ia harus ditepuk-tepuk bergantian oleh para suster. Saya segera dipanggil oleh dokter. Katanya, "Keadaan Bapak...." Namun, sebelum dokter itu meneruskan kata-katanya, saya langsung memotongnya, "Entahlah Dok, saya tidak mau mendengarkan apa yang Dokter katakan. Jika Dokter ingin mengatakan sesuatu, katakan saja kepada pendeta saya." Dokter itu diam dan saya segera keluar menelepon pak pendeta. Saat itu saya sendirian. Pekerja gereja yang setiap malam menemani saya pagi itu sudah pulang. Setelah menunggu agak lama, pak pendeta akhirnya datang. Saya tetap di luar karena takut. Ketika pak pendeta masuk ia mendapati pengukur detak jantung suami saya sempat lurus. Namun, 2 jam kemudian bergerak lagi dan kembali pada posisi semula. Kira-kira pukul 11.00 WIB, karena desakan pak pendeta, saya pun mau masuk ke kamar rawat suami saya. "Ko, ko, ko," begitu saya memanggil suami dan ia menyahut. Karena sudah sadar saya tidak takut lagi. Sekali lagi ia selamat.

Cahaya Terang Masuk ke Kamar ICU

Malam hari setelah peristiwa yang menegangkan itu, anak saya yang pertama, Michael, datang bersama 2 orang temannya. Mereka bukan orang Kristen. Kami di tempat itu berenam -- Michael dengan 2 orang temannya, saya, seorang pekerja gereja, dan seorang teman saya. Kira-kira pukul 22.00 WIB kami berdoa bersama di lift. Karena saya ingin menghormati teman Michael yang bukan Kristen, saya bilang, "Kita berdoa dalam hati saja, berdoa menurut kepercayaan masing-masing." 

Selesai berdoa, teman Michael yang bukan Kristen mengatakan, "Michael, waktu kita berdoa, saya melihat ada cahaya terang sekali masuk ke kamar ICU."
"Ma, Agung bilang, waktu berdoa ia melihat sinar masuk ke kamar ICU," kata Michael sembari menyebut nama temannya.
"Lho, kamu sedang menutup mata, bagaimana bisa lihat?" tanya saya.
"Ya, waktu menutup mata itulah saya melihatnya,"jawab Agung mantap.
"Saat melihat cahaya itu, apa yang kamu rasakan?" pertanyaan ini saya ajukan sebab di kamar ICU memang sering terjadi peristiwa aneh-aneh. Saya khawatir cahaya itu bukan dari Tuhan tapi dari setan.
"Perasaan saya damai," jawab Agung. Mendengar cerita dan jawaban Agung, saya langsung mengimani bahwa Tuhan sedang melawat suami saya. Melihat buahnya saya yakin sinar itu merupakan manifestasi Roh Kudus. Saya percaya, kalau ada lawatan Allah pasti sesuatu akan terjadi. Dari kesaksian Agung itu, iman saya kembali dibangkitkan, saya yakin suami saya pasti sembuh. "Terima kasih Tuhan," ujar saya penuh syukur.

Hari berikutnya, saya bertanya pada dokter ahli paru-paru dan mendapat jawaban menggembirakan, "Sudah ada sedikit perbaikan." "Terima kasih dokter, puji Tuhan!" ujar saya spontan, pokoknya saya terus imani dari hal yang kecil pasti akan terjadi hal yang besar. "Jangan berterima kasih pada saya, berterimakasihlah pada Tuhan," jawab dokter itu. Tadinya saya tidak tahu, ternyata dokter itu memang saudara seiman. Keadaan ini terus membaik. Setelah dirawat di ICU selama 5 minggu, suami saya dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Keadaan di ICU sungguh berkesan. Kehadiran saya paling tidak telah membuat orang-orang yang tegang sedikit merasa terhibur. Saya percaya ketika kita menyembah Tuhan lewat nyanyian, hadirat Allah ada di ruangan itu. Hal inilah yang mungkin membuat suasana di ICU menjadi hidup dan lebih nyaman. Sampai-sampai kalau saya tidak bernyanyi, saudara yang tak seiman pun bahkan sering bilang, "Ayo nyanyi, dong. Kalau kamu tidak nyanyi sepi, lho!" Ada juga yang mengatakan, "Suaramu merdu lho." Wah heran juga saya, sebab seumur-umur baru kali ini suara saya dipuji.

Di ruang perawatan biasa, kesehatan suami saya semakin cepat pulih. Di ruang ini suami hanya dirawat selama 2 minggu dan herannya setelah dirontgen, tulang-tulang rusuknya yang patah dinyatakan telah tersambung kembali! Tanggal 30 Desember 1999, suami saya keluar dari rumah sakit. Waktu pulang suami saya sudah normal. Ia sudah dapat berjalan dan tidak memakai alat bantu apa pun. Ia juga tidak pantang makan. Tanggal 31 Desember 1999, suami saya sudah ke gereja. Akhir 1999, sungguh menjadi saat yang manis bagi keluarga kami, sebab tidak saja pada tahun itu suami saya mengalami mukjizat kesembuhan, tapi kerinduan saya dan anak-anak untuk pergi ke gereja bersama ayahnya sudah dijawab Tuhan.

SABDA

PENGANIAYAAN ORANG KRISTEN DI CINA

Shalom pasukan doa!

KEADAAN YANG BURUK DI PENJARA

Ruth duduk di atas lantai yang kotor. Perasaannya dipenuhi keinginan untuk memberontak karena bau busuk yang begitu menyengat dan meliputi udara di dalam sel. Ruth tidak bisa mengingat bau benda apa yang lebih busuk dari bau ruangan ini. Di dalam sel ini tidak ada toilet, bahkan tidak ada satu lubang kecil untuk pembuangan kotoran. Sedikitpun tidak tersedia air di tempat itu. Di Cina, khususnya selama masa kebrutalan revolusi kebudayaan, para tahanan benar-benar tidak diperhatikan.

Ruth bisa merasakan binatang-binatang kecil merayapi tubuhnya seperti laba-laba, kecoa, dan tikus. Nyamuk-nyamuk yang haus akan darah berdesingan di mana-mana. Kegelapan meliputi tempat itu. Begitu gelapnya sampai Ruth tidak bisa melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Pikirannya sedang melamunkan tiga orang anaknya, Daniel 10 tahun, Joseph 8 tahun, dan Mary 5 tahun, yang ditinggal sendirian di rumah. Ruth bersama dengan suaminya, Michael, telah ditawan dan dimasukkan ke dalam sel tahanan. 

TRAGEDI YANG MENGENASKAN

Dalam kegelapan itu, tiba-tiba ada suara seorang teman yang bertanya, "Apakah kamu punya anak?" Mendengar pertanyaan yang seakan-akan mengerti pikiran dan perasaannya, Ruth menjawab, "Ya, ada tiga orang. Sebenarnya saya telah melahirkan empat orang anak, namun seorang di antaranya telah mati." "Apa yang terjadi?" Ruth tidak bisa menjawab. Untuk sesaat air matanya menglir membasahi pipinya. "Tuhan, tolonglah aku untuk mempermuliakan Engkau dalam segala sesuatu," dia berdoa.

Akhirnya dia mulai menceritakan kisah tragis yang menimpa anaknya ini. Dengan suara pilu dia berkata, "Peter," Ruth menyebut nama anaknya ini, "Tiga tahun yang lalu ketika dia berumur 11 tahun, rumah kami digeledah dan didatangi oleh Tentara Merah (Red Guards). 

Ada beratus-ratus orang yang datang dan memeriksa tempat kami. Mereka telah mengetahui bahwa saya dan suami saya adalah seorang pemimpin dari banyak 'gereja rumah' di daerah itu. Mereka menendang roboh pintu rumah kami, mengikat suami saya dan menggunduli kepala kami berdua. Mereka menodongkan senjata di atas kepala kami dan berteriak, "Di mana Alkitabmu? Di mana rekan-rekan yang bersamamu? Di mana kamu melakukan pertemuan?" Karena kami menolak untuk menjawab, mereka mulai menghancurkan perabot-perabot rumah kami dan seisi rumah kami diporak-porandakan. 

Untuk tiga hari tiga malam kami tidak diizinkan makan, minum, atau tidur. Mereka melihat empat orang anak kami dan mereka membariskan mereka di atas bangku. Ketika anak kami kelelahan, mereka memukuli anak-anak kami dan memerintahkan untuk terus berdiri di atas bangku. Karena saya dan suami saya tidak mau menajwab saat ditanyai, maka Tentara Merah mulai menginterogasi anak-anak kami. 

Tetapi anak-anak kami juga menolak untuk bekerja sama. Mereka mengetahui bahwa hidup atau mati, mereka harus mengakui nama Tuhan Yesus dan jangan pernah menyebutkan nama atau identitas rekan-rekan pekerja Kristen yang lain. Dengan kasar mereka mulai memukuli anak kami lagi. Peter diseret keluar rumah dan giginya mulai dicabuti. Dia dipukuli hingga berdarah. Akhirnya mereka melemparkan dan meninggalkan tubuhnya yang sudah lumpuh di atas lantai. 

Suami saya dibawa dan dipekerjakan secara paksa di kamp militer pekerja berat. Saya segera membawa Peter ke rumah sakit. Dokter mengatakan tidak ada harapan karena anak ini telah banyak mengeluarkan darah. Saya dieberitahu untuk mempersiapkan pemakaman baginya. Mereka juga telah memberikan surat-surat yang diperlukan untuk proses pemakaman. Pihak yang berwenang mengizinkan suami saya untuk meninggalkan kamp kerja paksa untuk sesaat dan menjenguk Peter di saat menit-menit terakhir sebelum Peter dijemput Tuhan. 

Ketika melihat ayahnya datang, Peter sangat gembira. "Ayah dan ibu," katanya, "Banyak orang yang mengenakan jubah hitam saat mereka mati, tetapi saya ingin berpakaian jubah putih, supaya saya kelihatan indah saat bertemu dengan Tuhan Yesus." Kami menangis dan sangat berduka karena dia. Dan kami berdoa bersama-sama supaya nama Allah dipermuliakan. 

Karena musim hujan pada waktu itu, maka semua jendela di tempat itu ditutup. Tetapi ketika kami selesai berdoa, satu jendela terbuka dan ada angin sejuk berhembus masuk memenuhi ruangan. Roh penghibur datang memasuki hati kami. Peter berbisik perlahan, "Yesus telah datang untuk membawaku pulang. Selamat tinggal." Wajahnya dipenuhi dengan sukacita. Bahkan dokter yang hadir saat itu digerakkan untuk berkomentar, "Saya belum pernah melihat orang yang mati penuh kedamaian seperti ini." Ketika kami pulang ke rumah, anak-anak kami yang lebih muda dari Peter mengagetkan kami dengan kegembiraan yang luar biasa. Mereka berkata, "Kami tidak bisa tidur, karena kami melihat kumpulan besar malaikat-malaikat di sekeliling rumah. Mereka membawa alat-alat musik dan menyanyi untuk kami. Mereka mengatakan bahwa mereka datang untuk membawa Peter bersama-sama dengan mereka ke Sorga." Saya menjelaskan, "Kakakmu telah pergi bersama-sama dengan Tuhan Yesus." Dan mereka semua menangis. Peter begitu mengasihi adik-adiknya ini dan mereka juga membalas kasihnya dengan rasa sayang yang sangat besar."

MENGGANTI KEBENCIAN DENGAN KASIH

Ada kesunyian yang panjang dalam sel itu. Tetapi kemudian Ruth mulai bisa mendengar suara tangisan yang berasal dari berbagai tempat di sel gelap itu. Tiba-tiba terdengar suara teriakan kemarahan, "Terkutuklah orang-orang Tentara Merah! Kenapa mereka melakukan hal yang keji seperti ini? Saya berharap bisa mencekik leher orang-orang ini dan membunuh mereka!"

"Jangan! Jangan!" Ruth berteriak, "Kalian jangan membenci mereka. Ini adalah dendam dan lingkaran kepahitan. Yesus mengajarkan supaya kita mengasihi semua orang bahkan mengasihi musuh-musuh kita. Setiap hari saya berdoa untuk Tentara-Tentara Merah ini, supaya mereka segera menemukan dan mengenal Yesus. Dengan cara yang sama, saya juga telah berdoa bagi kalian semua. Kalian semua juga kekasih-kekasih yang dicintai Tuhan Yesus."

"Hah!" cetus seseorang dengan geram, "Kalau Yesus sungguh-sungguh mengasihi saya, kenapa saya ada di sini, di dalam sel yang kumuh ini?" Ruth mulai menjelaskan bagaimana sel yang kotor ini sama seperti dosa mereka. Hanya Salib Yesus yang sanggup menjembatani jurang antara orang-orang berdosa dengan Allah yang kudus. Yang mereka butuhkan adalah mengakui dosa-dosa mereka dan meminta Yesus menjadikan mereka manusia yang baru. 

Sekali lagi ada kesunyian yang panjang dalam penjara itu. Dan satu persatu anggota sel itu mulai bertekuk lutut di sampingnya, penuh tangisan mengakui dengan keras segala dosa-dosa mereka dan memohon Yesus menyucikannya. "Terima kasih, Tuhan," Ruth berdoa, "Sungguh Engkau bisa mengubahkan segala sesuatunya menjadi baik."

Kesaksian ini menggambarkan betapa hebatnya aniaya dan penderitaan yang dialami gereja-gereja Tuhan di Cina. Namun semua yang dialami orang-orang ini seakan-akan memancarkan kemuliaan Tuhan yang semakin terang dan menjadi kesaksian atas seluruh bangsa di dunia. Keteguhan iman mereka teruji dalam dapur api. Mereka bukan cuma mengakui Yesus dengan mulut mereka, tetapi mereka membayar pengakuan mereka ini dengan aniaya dan penderitaan. 

Mereka belum pernah merasakan datang ke gereja tiap Minggu, bernyanyi memuji Tuhan, bersukacita, dan mengharapkan untuk hidup dalam kelimpahan. Yang ada pada mereka adalah gereja bawah tanah dan ibadah yang sembunyi-sembunyi. Mereka dikejar-kejar oleh tentara militer, dan rawan dengan aniaya. Pengakuan iman mereka teruji dengan tindakan yang nyata. 

Kuasa Injil betul-betul dinyatakan dalam kehidupan mereka. Mereka mempertahankan iman dengan nyawa mereka. Tidak ada sesuatupun yang dapat menggoyahkan iman mereka di dalam Tuhan. Iman seperti inilah yang dicari Tuhan.
"... Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:8)

PENGINJIL CINA MEMBUTUHKAN DOA SAUDARA

"Saya begitu sendirian. Saya menghadapi pikiran untuk bunuh diri ketika tidak bisa tidur setiap malamnya. Saya sangat merindukan untuk memenangkan banyak jiwa bagi Tuhan, namun tidak seorangpun yang mau mendengar. Semua orang memandang rendah dan meremehkan saya. Penghiburan saya hanyalah
Yesus yang telah mengalami dan menjalani semuanya ini, penderitaan, aniaya, diremehkan, dan direndahkan."

Bagian dari surat penginjil Cina ini memberikan gambaran bahwa banyak daerah-daerah di Cina yang belum meresponi panggilan Tuhan. Bahkan kalau seandainya kita memasukkan 70 juta orang Cina Kristen (orang yang meresponi Injil Kristus) dalam hitungan, hitungan ini hanya mencapai kurang dari 7% saja orang Cina yang percaya dan meresponi Injil Kristus. Berdoalah supaya Tuhan meneguhkan setiap penginjil-penginjil yang melayani desa-desa kecil di seluruh Cina, supaya mereka berada dalam kondisi rohani yang berapi-api.

Tragisnya, orang yang menulis surat ini telah dikubur 2 tahun lalu. Tidak ada seorangpun yang tahu apakah ia bunuh diri atau dibunuh.

"Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Wahyu 12:11)

KESAKSIAN

Senin, 04 Oktober 2010

ANAKKU DISEMBUHKAN TUHAN YESUS!

Shalom pasukan doa!

Saya berlatar belakang Konghucu dalam keluarga bisnis dan punya anggapan bahwa segala sesuatu bisa beres dengan "uang" dengan bahasa lain "the power of money". Berawal dari anak saya yang sakit panas, seperti biasanya orangtua membawa anaknya yang sakit ke dokter anak terdekat dan langganan.
Suatu hari anak saya sakit panas dan saya bawa ke dokter anak, diberitahukan oleh dokter bahwa anak saya sakit panas disebabkan karena kelelahan. Obat dari resep pertama habis tetapi panas masih naik turun, saya bawa lagi ke dokter dan dikatakan karena kecapekan dan anehnya setelah 3 resep obat habis tapi panas tidak hilang. Dengan analisis dokter bahwa anak saya cuma kecapekan, karena penasaran saya bawa ke "Prof. Dr. spesialis anak."

Setelah diperiksa hanya menggunakan stetoskop, sendok lidah  dan batrei senter, diketahui bahwa anak saya mengalami "kebocoran paru-paru" dan harus segera diopname. Kami bawa untuk diopname di salah satu rumah sakit besar di Bandung dan setelah 4-6 hari sembuh. Dalam hati saya berpikir "sungguh hebat prof. dr. itu, hanya dengan peralatan sederhana saja sudah mampu mendeteksi penyakit yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh dokter lain dan yg lebih hebatnya bisa memberikan resep obat yang demikian akurat sehingga dalam tempo yang singkat penyakit itu bisa di-"kalah"-kan. Beberapa bulan kemudian anak saya kembali sakit dan karena saya sudah kenal dokter yang "hebat", maka saya percaya bahwa uang yang saya bayarkan kepada dokter itu mampu manyambuhkan penyakit anak saya. Alhasil dalam waktu 4-6 hari opname pun anak saya sembuh. Demikian hingga beberapa kali saya yakin bahwa dokter itu mampu dan hebat, hingga suatu kali TUHAN menyadarkan saya bahwa kekuatan manusia sangatlah terbatas dan hanya kekuatan dan kuasa-Nya yang tidak terbatas.

Suatu kali anak saya kembali sakit dengan penyakit yang mirip dengan panas dalam hingga bibirnya mengering dan pecah-pecah dan meneteskan darah. Saking perih yang dirasakan oleh anak saya, dia tidak mau makan dan minum melalui mulut, hanya melalui selang infus yang menyakitkan nutrisi-nutrisi itu di terima oleh tubuh anak saya. Setelah beberapa hari dirawat inap dan ditangani oleh dokter yang saya andalkan bahwa dokter itu mampu menyembuhkan penyakit yang diderita anak saya, saya tanyakan apa penyakit yang diderita oleh anak saya? dia bilang tidak tahu, harus tunggu hasil dari laboratorium dulu baru ketahuan dan bisa ditangani penyakitnya. Tetapi setelah hasil laboratorium keluar, ternyata prof. dr yang saya banggakan dan saya andalkan tidak mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh anak saya, bahkan untuk mengetahui jenis penyakitnya pun prof. dr. itu tidak mampu. Disitu saya shock dan frustasi. Kemana lagi saya harus mencari tempat bergantung? yang bisa saya lakukan hanya menangis dan berdoa. Tetapi doa saya salah, karena saya bukan minta kepada TUHAN untuk menyembuhkan sakit penyakit anak saya, tetapi saya meminta agar TUHAN menghentikan derita anak saya dengan cara "mencabut" nyawa anak saya.

TUHAN sungguh baik, sangat baik. DIA menjawab doa saya dengan mengirimkan dua orang pendeta  yang sebelumnya tidak pernah saya dapatkan. DIA mengirimkan pendeta itu untuk memperbaiki doa saya yang salah. Keesokan harinya setelah prof. dr. itu menyatakan tidak tahu jenis penyakit yang diderita oleh anak saya, datang dua orang pendeta menyapa dan bertanya:
"selamat pagi, anaknya sakit apa?" Saya jawab tidak tahu. Pendeta bertanya lagi, "menurut dokter sakit apa?" Saya jawab: "dokter pun tidak tahu" "tapi bapak mau anaknya sembuh?" tanya pak pendeta. "Mau!" jawab saya. Dan pendeta berkata, "biar dokter di sini tidak tahu dan tidak sanggup, kita masih punya 'DOKTER di atas segala dokter' dan DOKTER ini mampu dan sanggup. Maukah bapak meminta bersama saya?" Saya jawab dengan antusias, "mau!" "Bapak percaya?" Saya anggukan kepala. Kemudian pendeta itu mengajak saya berdoa bersama meminta kesembuhan atas anak saya. Didalam saya mendengarkan doa yang dipanjatkan oleh pendeta itu, saya menangis, menangis dan menangis. Rupanya TUHAN punya rencana yang sangat indah melalui penyakit itu. Puji TUHAN, walaupun dokter yang di dunia tidak sanggup mendeteksi jenis penyakit yang diderita oleh anak saya, tetapi TUHAN sanggup menyembuhkannya. Halleluya, terima kasih TUHAN YESUS, ENGKAU kirimkan malaikat-Mu. Sungguh tak terbatas kuasa-Mu, semua dapat KAU lakukan, apa yang kelihatan mustahil bagi manusia, itu sangat mungkin bagi-Mu. Di saat ku tak berdaya, kuasa-Mu yang sempurna... ketika ku percaya, mujizat itu nyata. Bukan karna kekuatan, tapi roh-Mu ya TUHAN, ketika ku berdoa, mujizat itu nyata.
Amin.

(Sumber : Glorianet)

RIBUAN ORANG ANTRI DISEMBUHKAN DALAM NAMA YESUS DI AMBON

Shalom pasukan doa!

Jika beberapa waktu lalu sering muncul fenomena dukun cilik, kini di Ambon muncul fenomena kesembuhan yang dilakukan oleh seorang pria berusia 35 tahun. Yang membuat hal ini berbeda, pria yang bernama Pieter Aihua ini hanya menaruh tangannya pada bagian yang tubuh orang sakit dan berdoa dengan nama YESUS.

Menurut berita yang dirilis oleh Reformata, kejadian ini berawal saat Pieter sedang berada di salah satu rumah sakit di Ambon untuk menjalani operasi usus buntu. Saat tertidur, ada pasien lain yang melihat ada Cahaya yang masuk ke tangan Pieter. Tangan Pieter langsung diangkatnya dan diletakkan pada bagian tubuhnya yang sakit, dan orang tersebut sembuh.

Pieter pun langsung sembuh bahkan menyembuhkan semua orang yang ada di rumah sakit tersebut hanya dengan jamahan tangannya. Sejak itu, berita ini menyebar dari mulut ke mulut dan ribuan orang mengantri di rumah Pieter. Reformata menuliskan sekitar 7.000 orang tercatat pada buku registrasi pasien sejak 13 Mei 2010.

Sekalipun yang datang untuk berobat kepada Pieter datang dari berbagai agama, namun Pieter membuat prosedur penyembuhan sesuai imannya. Para pasien mengawali dengan menyanyikan puji-pujian bersama dari Kidung Jemaat. Setelah itu, pasien mengantri berdasarkan nomor urut. Selanjutnya, pasien akan dipanggil dan menemui Pieter. Pasien akan ditanya Pieter, “Kamu yakin mau sembuh?” Lalu ditanyakan bagian mana yang sakit dan di doakan sambil dijamah pada bagian yang sakit.

“Pieter tidak memakai apa-apa untuk mengobati, dia hanya bertanya tentang keyakinan saya untuk mau disembuhkan Tuhan. Kemudian dia berdoa, dan menjamah bagian tubuh saya yang lemah,” demikian cerita Emy, seorang wanita tua yang terharu dan merasa lebih kuat setelah didoakan oleh Pieter.

Emy percaya bahwa Pieter hanya alat Tuhan, namun dia percaya bahwa YESUS Kristuslah yang menyembuhkannya.

Fenomena kesembuhan ajaib ini juga pernah terjadi di Manado, yang dilakukan oleh seorang anak kecil bernama Selvin di desa Meko. Seperti yang pernah terjadi, di Ambon ini pun mukjizat seperti orang lumpuh berjalan dan orang buta melihat benar-benar terjadi. Penyembuhan yang dilakukan oleh Pieter ini benar-benar gratis, dan tidak dipungut biaya apapun.

Apakah ini benar-benar dari Tuhan atau seperti fenomena dukun cilik? Hal inilah yang harus diuji oleh setiap orang percaya. Namun satu hal yang perlu kita camkan bahwa nama “YESUS KRISTUS” berkuasa, jika Anda percaya kepada-Nya dan berdoa dalam nama-Nya maka percayalah bahwa mukjizat dapat Anda alami.

(Sumber : Reformata)

Senin, 27 September 2010

KESAKSIAN PINGKAN MAMBO BERTEMU YESUS



Shalom pasukan doa!

Beberapa hari belakangan ini, banyak dimuat pemberitaan yang menyebutkan bahwa Pingkan Mambo sudah mempercayai YESUS sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya.

Beberapa minggu yang lalu, Pingkan Mambo pernah memberikan kesaksiannya di salah satu gereja di Jakarta.

Di sana, Pingkan Mambo juga menyanyikan salah satu lagu rohani.

Adapun kesaksiannya yaitu sebagai berikut:

Menurut salah seorang jemaat yang beribadah di gereja tersebut, Pingkan Mambo mengenal YESUS berawal  dari ibu temannya, yang merupakan teman dekat sehingga Pingkan sering bertandang ke rumah mereka.

Di sana, ibu temannya tersebut mengisahkan kisah perjalanan hidupnya bersama YESUS.
Secara otomatis, Pingkan yang sering bertandang itu, sering mendengar siapa itu YESUS dan bagaimana Pribadi-Nya. Pingkan sendiri menganggap sebagai pembicaraan biasa, pembicaraan sambil lalu dan tidak memasukkannya ke dalam hati sampai pada suatu kali. Ibu temannya ini bilang, "Suatu hari, nanti YESUS juga datang kepadamu." Kurang lebih seperti itulah ucapan ibu tersebut.

Sejak itu, Pingkan mulai kepikiran, kenapa ibu ini bisa ngomong seperti itu. Apa yang dia maksud? Kisah selanjutnya terjadi ketika pengacara Pingkan, yang saat itu sedang mengurus masalah perceraiannya, salah  mengirim MMS.

Maksud hati hendak mengirim ke salah seorang teman, ternyata si pengacara salah kirim ke nomor telepon genggam Pingkan.
Adapun MMS yang dikirim yaitu gambar YESUS. Sang pengacara pun meminta maaf.

Pingkan terkejut bukan main. Kenapa pada saat dia sedang memikirkan perkataan ibu temannya, dia tiba-tiba
mendapatkan MMS bergambar YESUS.

Pingkan mulai bertanya-tanya apakah maksud dari semua ini.

Sejak saat itu, Pingkan mencoba datang ke gereja-gereja dan mencari tahu siapa itu YESUS.

Di saat itulah, YESUS datang dalam hidup Pingkan dan memenuhi dirinya dengan kasih- Nya yang luar biasa sehingga Pingkan merasa diubahkan dan menjadi baru.

Kasihnya berkobar-kobar buat YESUS, karena dia tahu bahwa dia sudah berada dalam
genggaman yang aman, di bawah naungan TUHAN yang Maha Kuasa.

Minggu, 26 September 2010

MOSAB HASSAN YOUSEF PUTRA PEMIMPIN SENIOR HAMAS BERTOBAT KEPADA YESUS



Shalom pasukan doa!

Sejenak sebelum makan malam, Masab (atau Mosab), anak dari ketua Hamas di Tepi Barat yakni Sheikh Hassan Yousef, memandang pada temannya yang menemaninya makan di restoran tempat mereka bertemu. Mereka membisikkan beberapa patah kata dan lalu mengucapkan doa syukur, berterima kasih pada Tuhan Yesus karena menyediakan makanan di meja makan mereka.

Butuh beberapa detik untuk mencerna pemandangan ini: anak dari ketua Hamas yang merupakan tokoh terkenal dari organisasi Islam ekstrimis, seorang pemuda yang membantu bapaknya selama bertahun-tahun dalam aktivitas politiknya, sekarang malah murtad dan jadi Kristen. “Sekarang aku bernama Joseph,” katanya.

Masab tahu bahwa dia tidak punya banyak harapan kembali ke tanah suci (Palestina) di dalam hidupnya sekarang.

“Aku tahu kok aku membahayakan nyawaku dan bahkan kemungkinan besar aku kehilangan ayahku, tapi aku berharap dia akan mengerti hal ini dan Tuhan akan memberi dirinya dan keluargaku kesabaran dan kemauan untuk membuka mata mereka pada Yesus dan Kristen. Mungkin suatu hari nanti aku bisa kembali ke Palestina dan juga ke Ramallah bersama Yesus, di Kerajaan Tuhan.”

Dia juga tidak menutupi rasa kasihnya pada Israel, atau kebenciannya akan semua hal yang mewakili lingkungan di mana dia dibesarkan: negaranya, agamanya, organisasinya.

”Kirim salam ya kepada Israel, aku rindu padanya. Aku menghormati Israel dan mengagumi negara itu,” katanya.

”Kalian para Yahudi harus waspada: Kalian tidak akan, tidak akan pernah bisa berdamai dengan Hamas. Islam, ideologi yang mereka anut itu, tidak memperbolehkan mereka mengalami perdamaian dengan kaum Yahudi. Mereka percaya pada hadis yang mengatakan Nabi Muhammad berperang melawan Yahudi sehingga mereka pun harus melanjutkan peperangan itu sampai mati.”

Apakah ini sebabnya para Muslim melakukan serangan bunuh diri?

”Lebih dari sekedar itu sih. Seluruh masyarakat muslim memuliakan kematian dan teroris bunuh diri. Di dalam budaya Palestina, teroris bunuh diri jadi pahlawan syahid. Para Sheikh mengajarkan pada para muridnya tentang ‘kepahlawanan dalam syahid’.”

Meskipun banyak kritik datang dari tempat asalnya, California yang sekarang jadi tempat tinggalnya, tidak dapat menghilangkan kerinduan hatinya.

”Aku rindu Ramallah,” katanya. “Orang-orang yang berpikiran terbuka… Aku terutama merindukan ibuku, saudara lelaki dan perempuanku, tapi aku tahu bahwa akan sulit sekali bagiku kembali ke Ramallah saat ini.”


Menikmati kehidupan barunya di California, USA, Yousef junior sadar betul akan dampak wawancaranya ini. Bukan hanya ia akan menyinggung perasaaan keluarganya, ia kini ragu bisa pulang kembali ke Ramallah. "Saya tahu saya mempertaruhkan nyawa saya dan jelas akan kehilangan ayah saya. Tapi saya harap ia akan mengerti ini dan Tuhan akan memberikan dirinya dan seluruh keluarga saya kesabaran dan keinginan untuk membuka mata mereka bagi Yesus dan agama Kristen."

Ini sekilas latar belakang hidupnya :

MASAB-JOSEPH :

Saat SMA saya belajar syariah. Thn 1996, ketika saya berusia 18, saya ditangkap tentara Israel karena saya kepala Masy Islam di SMA saya. Inilah titik mulanya proses penyadaran saya.

"Sebelumnya saya hanya mengenal Hamas lewat ayah saya. Tadinya saya mengagumi Hamas, karena saya mengagumi ayah saya. Tapi setelah 16 bulan dlm penjara, saya menyadari wajah Hamas sebenarnya. Hamas adalah organisasi negatif. Sebuah organisasi yg buruk secara fundamental. Dalam penjara Megiddo saya tiba-tiba menyadari apa sebenarnya Hamas. Para pemimpin mereka di penjara (Israel) mendapatkan keadaan (fasilitas dan makanan) yang jauh lebih baik (daripada para tahanan Israel di penjara Hamas), belum lagi ijin kunjungan keluarga mereka dan fasilitas mandi. Sementara orang-orang Hamas tidak punya moral, tidak punya integrity. Tetapi mereka tidak sebodoh Fatah, yang mencuri disiang bolong didepan umum. Hamas mencuri dengan cara diam-diam sambil bersikap sok suci. Cepat atau lambat uang hasil korupsi ini akan mengangkangi bangsa Palestina sendiri !

"Tidak seorangpun yang tahu benar seluk beluk cara kerja Hamas. Contoh, saya ingat betul bagaimana keluarga Saleh Talahmeh, anggota tangan militer Hamas, yang dibunuh Israel, terpaksa menggembel minta bantuan teman-temannya karena mereka tidak ditinggalkan uang sepeserpun. Para pemimpin Hamas tidak peduli dengan mereka ataupun dengan para keluarga syuhada lainnya, sementara para anggota senior sering berfoya-foya diluar negeri, menghabiskan puluhan ribu dollar per bulan untuk membiayai bodyguard saja!"

Setelah saya keluar dari penjara (Israel), saya kehilangan kepercayaan kepada mereka yang mewakili Islam."

{Pada saat wawancara ini, ayahnya masih belum juga tahu bahwa ia telah murtad ke Kristen}

Ayahnya yang BINGUNG setelah mengetahui anaknya murtad & minta suaka ke USA! 'Mosok sih?' katanya sambil menunjuk foto puteranya!

"Wawancara ini akan membuka mata banyak orang dan menggoyahkan Islam sampai ke akar-akarnya. Saya tidak berlebihan kok!"

Bagaimana Ia Tertarik Pada Agama Lain?

"Ini dimulai 8 tahun yang lalu. Saya berada di Yerusalem dan menerima undangan untuk mendengar ceramah tentang Kristen. Dari situ saya semakin ingin tahu dan mulai membaca INJIL dengan diam-diam, sambil meneruskan pelajaran syariah. Ayat seperti "CINTAILAH MUSUHMU" sangat mempengaruhi saya. Saya ketika itu masih Muslim dan tidak pernah menyangka akan murtad. Tetapi setiap hari saya melihat hal-hal mengerikan yang dilakukan atas nama Islam oleh para Muslim yg menganggap diri 'bangsa terpilih Allah.' Saya kembali mempelajari Quran dan prinsip-prinsip agama itu dan berkesimpulan bahwa Islam salah dan menyesatkan. Muslim meminjam ritual dan tradisi dari agama-agama sekitarnya."

...Saya anggap Islam adalah sebuah kebohongan besar. Orang-orang yang mewakili Islam lebih memuja Mohammed ketimbang Tuhan, membunuh orang-orang tidak bersalah atas nama Islam, memukuli para istri mereka dan sama sekali tidak tahu apa itu Tuhan. Saya tidak ragu bahwa mereka akan ke neraka. ... Orang Palestina, kalau tidak punya musuh, akan memerangi sesama. Dalam 20 tahun nanti akan timbul konflik antara berbagai kelompok di dalam tubuh Hamas sendiri. Sekarang saja mereka sudah mulai cekcok tentang penguasaan uang."

"Kalian Yahudi harus sadar: Kalian tidak akan pernah bisa berdamai dengan Hamas. Islam, ideologi yang mengontrol mereka, tidak akan pernah mengijinkan mereka berdamai dengan Yahudi. Mereka percaya bahwa Mohammed memerangi Yahudi dan oleh karena itu mereka harus melanjutkan perang itu sampai mati. Mereka harus membalas dendam terhadap siapapun yang tidak menerima Mohammed, seperti Yahudi yang di Quran digambarkan sebagai kera dan babi. Dalam pandangan Hamas, perdamaian dengan Israel akan meng-KONTRADIKSI syariah & Quran, dan menganggap Yahudi tidak punya hak di Palestina." ... "Saya meninggalkan tanah luas di Ramallah hanya untuk mencapai kebebasan murni. Saya ingin kesempatan untuk membuka mata Muslim dan menunjukkan kebenaran tentang agama mereka, menarik mereka dari kegelapan dan penjara Islam.

... Islam tidak akan survive untuk lebih dari 25 tahun. Dulu mereka (Muslim) berhasil menakut-nakuti orang, tetapi sekarang, dalam jaman internet ini, mereka tidak lagi bisa menyembunyikan kebenaran."

Mosab Hassan Yousef adalah seorang anak muda yang luar biasa dengan kisah hidup yang luar biasa pula. Dia adalah putera seorang pemimpin yang paling berpengaruh dalam organisasi militan Hamas di Tepi Barat dan tumbuh di dalam sebuah keluarga Islam yang taat.

Kini, pada usia 30 thn, ia menghadiri gereja evangelis Kristen di Barabbas Road, San Diego, California. Ia murtad dari Islam, meninggalkan keluarganya di Ramallah dan sedang mencari suaka di AS.

Cerita hidupnya sungguh menakjubkan. Dibawah ini cuplikan wawancara eksklusif dengan FOX News dimana ia bercerita bagaimana seorang Muslim Tepi Barat menjadi Kristen di West Coast (Pantai Barat AS).

JONATHAN HUNT (FOX News): Mengapa, setelah 25 thn, anda berubah?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Saya percaya bahwa semua tembok yang didirikan Islam selama 1400 thn terakhir ini tidak lagi eksis. Mereka (Muslim) tidak mengakui ini. Mereka mendirikan tembok-tembok ini dan membiarkan orang (muslim) bodoh karena mereka takut. Mereka tidak ingin orang membahas apapun tentang realitas Islam, tentang pertanyaan-pertanyaan penting mengenai Islam dan mereka meminta kepada para pengikut mereka, 'Jangan tanya tentang hal-hal tertentu itu.'

Tapi kini, orang memiliki media. Jika seorang ayah mengurung puterinya dirumah, puterinya akan duduk dibelakang komputernya dan melancong keseluruh pelosok dunia (via internet). Jadi, orang bisa mendapatkan informasi, pengetahun, searching engines, sehingga sangat sangat mudah bagi siapapun untuk mempelajari Islam, dan agama-agama lainnya. Tidak dari sudut pandang Islam, namun dari sudut perspektif lain. Jadi dalam 25 tahun nanti, ini jelas akan membawa perubahan besar dalam dunia Arab & Muslim.

JONATHAN HUNT: Anda berbicara dari sebuah perspektif unik, sebagai lelaki yang tidak saja dibesarkan dalam keluarga Islam tetapi sebagai bagian dari organisasi yang dianggap sebagai kekuatan ekstrim dalam Islam: Hamas. Apakah realitas Islam? Kau mengatakan orang tidak melihat realitasnya; Apa realitas Islam?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Ada dua fakta yang tidak dimengerti Muslim... Saya perkirakan, lebih dari 95% Muslim tidak mengerti agama mereka sendiri. Islam muncul dalam bahasa yang jauh lebih keras daripada bahasa yang digunakan Muslim sekarang, sehingga mereka tidak mengerti (bahasa Islam yang sebenarnya)... mereka hanya menggantungkan diri kepada para ulama untuk mendapatkan pengetahuan mereka tentang agama ini.

Kedua, mereka tidak mengerti apapun tentang agama-agama lain. Masyarakat Kristen yang hidup sebagai minoritas dalam sebuah masyarakat mayoritas Muslim lebih memilih untuk tidak berbicara tentang Yesus Kristus karena itu terlalu BAHAYA bagi mereka.

Jadi, semua pandangan Muslim tentang agama lain dibumi ini hanya datang dari sudut pandang Islam. Nah, realitas ini yang tidak dimengerti kebanyakan orang.

Jika orang, jika Muslim, mulai mengerti agama mereka dan melihat kandungannya yang mengerikan itu, mereka akan mulai mengerti bagaimana ini semua bisa terjadi ...karena kebanyakan ulama hanya berfokus pada hal-hal tertentu dari Islam. Ini karena mereka terlalu malu untuk membahas hal-hal diluar itu.

JONATHAN HUNT: Contohnya ?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Seperti istri-istri Muhammad, misalnya. Kau tidak akan pernah mendengar kotbah di mesjid tentang istri-istri Muhammad, yang kemungkinan lebih dari 50 — walau tidak ada satupun orang yg mengetahuinya, by the way. Tanyakan sendiri kepada mayoritas Muslim, dan mereka tidak tahu menahu tentang fakta ini.

Jadi, mereka MALU membahas ini, jadi mereka cuma berbicara tentang kejayaan Islam, kemenangan-kemenangan yang dicapai Muhammad. Tapi, begitu orang memandang diri sendiri, mereka akan melihat bahwa mereka sebenarnya kalah. Mereka bodoh, tidak di-didik, tidak mampu memimpin dunia seperti yang mereka harapkan. Oleh karena itu mereka ingin kembali kepada masa jaya itu dengan melakukan apa yang dilakukan Muhammad, tidak peduli bahwa hal itu terjadi 1400 tahun lalu dan tidak akan pernah bisa terulang lagi.

JONATHAN HUNT: Apakah mereka ingin menghancurkan agama Kristen?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Islam memang sudah menghancurkan agama Kristen dari permulaan dan Muslim tidak mengakui bahwa mereka menusuk hati Kristen dengan mengatakan bahwa Yesus tidak mati di salib. Muslim menganggap bahwa ini caranya menghormati nabi Isa (Yesus kristus). [...] Ini yg dilakukan Muslim. Mereka tidak mengerti bahwa ini bagian yang paling penting dari agama Kristen: salib!

Jadi, mereka berpandangan sempit, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, dan inilah asal usul segala ide jahat dibelakang agama yang bernama Islam ini.

JONATHAN HUNT: Apa peristiwa khusus yang mulai mengubah pendapat anda ttg Islam?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Sejak kecil saya sudah memiliki sejumlah pertanyaan sulit, bahkan keluarga saya sering mencela saya, 'Kau memang anak keras kepala dan kami sulit menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Mengapa sih kau nanya-nanya melulu?' Jadi, inilah permulaannya.

Namun saya merasa bahwa semuanya — dan ayah saya adalah contoh bagus bagi saya karena ia memang orang jujur dan bersahaja, sangat baik terhadap ibu saya dan terhadap kami, dan membesarkan kami dengan prinsip-prinsip pengampunan. Nah, oleh karena itu saya menyangka semua orang Islam seperti ini.

Ketika saya berusia 18 tahun, dan saya ditahan orang Israel dan mendekam di sebuah penjara Israel. Tapi disana Hamas memiliki kontrol atas para anggota mereka didalamnya dan saya melihat Hamas menyiksa orang-orang dengan sangat-sangat parah.

JONATHAN HUNT: Maksudmu, anggota Hamas saling menyiksa sesama anggota?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Para pemimpin Hamas! Pemimpin-pemimpin Hamas yang kita kini saksikan di TV sekarang, dan para pemimpin besar, bertanggung jawab atas penyiksaan terhadap anggota-anggota mereka sendiri. Mereka tidak menyiksa saya, tapi ini tetap sebuah shock bagi saya, melihat mereka menyiksa sesama anggota mereka: menusuk kuku-kuku dengan jarum, membakar tubuh mereka, dan juga banyak yang dibunuh.

JONATHAN HUNT: Tapi mengapa mereka membunuh orang-orang mereka sendiri?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Karena curiga bahwa mereka telah bekerja sama dengan pihak Israel dan bekerjasama dengan penjajah Israel melawan Hamas... Jadi ratusan orang jadi korban. Saya menyaksikan penyiksaan ini selama setahun. Nah, itulah titik perubahan paling besar dalam hidup saya. Saya mulai membuka mata saya. Tapi saya masih merasa bahwa ada Muslim baik dan ada Muslim jahat. Muslim baik, seperti ayah saya, dan Muslim buruk seperti orang-orang Hamas ini yang menyiksa rekan-rekan mereka sendiri.

Nah, itulah permulaan mata saya terbuka lebar.

JONATHAN HUNT: Anda berbicara tentang Muslim baik, seperti ayah anda, tetapi tetap saja anda meninggalkan agama ayah anda. Bukankah kau bisa saja menjadi Muslim baik seperti ayah anda?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Nah, ini nih realitasnya: saya mendalami agama Kristen — yang tadinya saya salah mengerti total, karena saya mempelajarinya dari sudut Islam, padahal tidak ada satupun yang benar tentang Kristen kalau dipelajari dari sudut Islam.

Ketika saya mendalami Injil dengan perlahan-lahan, ayat demi ayat, saya memastikan dulu bahwa ini buku Tuhan, pernyataan Tuhan, sehingga saya mulai memandang Injil dengan cara berbeda. Tidak mudah bagi saya untuk mengatakan bahwa Islam adalah salah.

Islam adalah ayah saya. Saya dibesarkan untuk satu ayah — 22 tahun untuk ayah itu — dan seorang ayah lain datang kepada saya dan mengatakan, 'Maaf, SAYA-lah ayahmu.' Dan saya tersentak, 'Apa maksudmu? Saya punya ayah saya sendiri, dan dia adalah Islam!' Dan lalu ayah Kristen mengatakan kepada saya, 'Tidak, sayalah ayahmu. Saya berada dalam penjara, dan ini (Islam) bukan ayahmu.'

Nah, itulah yang terjadi. Tidak mudah untuk percaya bahwa (Islam) bukan ayahmu lagi. Jadi saya harus mendalami Islam sekali lagi dari sudut pandang lain untuk menyadari semua kesalahan, kesalahan-kesalahan besar dan dampaknya, tidak hanya terhadap Muslim — yang nilai-nilainya saya benci... saya tidak suka tradisi manapun yang hanya menyulitkan kehidupan orang — tapi juga dampaknya bagi umat manusia. Pada umat manusia! Manusia saling membunuh atas nama Tuhan.

Nah, mulailah saya dengan pasti menyimpulkan bahwa problemnya adalah Islam, bukan Muslim — saya tidak dapat membenci Muslim karena Tuhan mencintai mereka dari permulaan. Dan Tuhan tidak menciptakan sampah. Tuhan menciptakan orang-orang baik yang dicintaiNya, tapi Muslim adalah orang-orang SAKIT (sick), mereka memiliki pemikiran berbeda. Saya tidak lagi membenci mereka tapi saya sangat sedih melihat mereka dan satu-satunya cara bagi mereka untuk berubah adalah dengan mengenal siapa Tuhan dan mana jalan sebenarnya.

JONATHAN HUNT: Apakah kau tidak khawatir bahwa pernyataan-pernyataan semacam ini — dan mengingat latar belakangmu, akan sangat diperhatikan — akan meningkatkan kesulitan, kebencian antara Kristen dan Muslim di dunia saat ini?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Ini bisa terjadi kalau seseorang Kristen datang kepada Muslim dan berbicara tentang realitas Islam. Tapi Kristen memang sudah ditempatkan dalam daftar musuh mereka anyway, bahkan sebelum mereka membuka mulut tentang Islam. Jadi, jika kau pergi ke mereka sebagai Kristen, Muslim akan langsung merasa tersinggung dan membencimu dan ini jelas akan meningkatkan jurang antara kedua agama — tetapi apa yg membuat orang seperti saya bisa berubah?

Beberapa tahun lalu, ketika saya disana, Tuhan membuka mata dan juga otak saya dan saya menjadi orang yang berubah total. Jadi sekarang, saya bisa melakukan kewajiban ini, kalian sebagai Kristen bisa membantu saya melakukannya, tapi kalian mungkin tidak sanggup. Muslim kini tidak lagi memiliki alasan, sekarang.

JONATHAN HUNT: Betapa sulitnya proses meninggalkan keluargamu dan rumahmu?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Ibarat mencabut kulit dari tulang saya, begitu kira-kira. Saya cinta keluarga saya, mereka cinta saya. Dan adik-adik saya seperti putera saya sendiri. Saya membesarkan mereka. Basically, ini keputusan terbesar dalam hidup saya.

Saya meninggalkan semuanya, tidak hanya keluarga saja. Jika kau memutuskan untuk murtad dari Islam ke Kristen, tidak cukup untuk mengatakan goodbye dan thank you. Tidak cukup. Kau juga membelakangi budaya, peradaban, tradisi, masyarakat, keluarga, agama, Tuhan — atau apa yang kusangka sebagai tuhan selama bertahun-tahun! Jadi, ini sangat complicated. Orang menyangka itu mudah, seperti hal sepele. Kini di AS saya mendapatkan kebebasan saya and it's great, tapi dilain pihak, tidak ada yg bisa mengganti famili... berat kehilangan family

JONATHAN HUNT: Jadi, kau kehilangan keluargamu?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Keluarga saya terdidik dan ini juga sulit bagi mereka. Mereka meminta saya berkali-kali, khususnya selama dua hari pertama, untuk menyembunyikan agama saya yang baru ini dan tidak mengumumkannya di media.

Tapi saya diwajibkan Tuhan untuk mengumumkan namaNya dan memujaNya keseluruh dunia karena penghargaan bagi saya adalah bahwa IA akan melakukan hal yang sama bagi saya. Jadi, saya lakukan ini sebagai sebuah kewajiban. Saya ingin tahu berapa orang yang bisa melakukan apa yang saya lakukan sekarang ini. Saya belum menemukan satu orangpun.

Saya harus kuatkan diri. Ini tantangan yang sangat besar. Ini keputusan yang sangat besar dalam hidup saya. Saya tidak main-main. Saya tidak melakukan ini untuk kebahagiaan dunia. Saya melakukannya untuk satu alasan saya: saya percaya. Setiap hari orang menderita karena kepercayaan yang salah. Saya bisa membantu mengeluarkan mereka dari lingkaran tidak berkesudahan ini... lingkaran yang disediakan setan untuk mereka.

JONATHAN HUNT: Kau masih sempat berbicara dgn ayahmu?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Tidak ada kesempatan untuk berkomunikasi dengan ayah saya karena ia sekarang di penjara dan tidak ada telpon di penjara.

JONATHAN HUNT: Apakah anggota keluargamu tidak bercerita kepadamu tentang reaksi ayahmu?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Mereka memang mengunjunginya. Tapi sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana reaksinya, tapi saya yakin ia sangat sedih tentang keputusan saya ini. Tapi ia juga akan mengerti, karena ia tahu saya dan ia tahu saya bukan tipe orang yang mengambil keputusan secara enteng, tanpa kepercayaan kuat.

JONATHAN HUNT: Apakah kau akan semakin menyulitkan posisinya diantara sesama anggota Hamas semakin sulit?

MOSAB HASSAN YOUSEF: JELAS! Keluarga saya, termasuk ayah saya harus menanggung beban atas keputusan saya ini. Ini bukan keputusan mereka. Ini keputusan saya, tapi mereka tetap harus menanggung beban dan saya minta — saya berdoa bagi ayah, semua kakak dan adik saya di gereja ini, selalu berdoa setiap kali bagi mereka — 'Tuhan, bukalah mata mereka, pemikiran mereka, untuk datang kepada Kristus. Dan berikan rahmatMu karena mereka juga harus menanggung salib ini dengan saya.'

JONATHAN HUNT: Ceritakan kami tentang Hamas dan cara kerjanya. Apakah Hamas sebuah organisasi Islam murni, sehingga dimatamu disitulah kesalahan mereka, ATAU ada hal-hal lain dalam Hamas yang kau tidak sukai? Atau kau menganggap Hamas sebuah organisasi baik? Apa arti Hamas bagi dirimu?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Yah, dimanapun ada orang baik. Sesungguhnya Tuhan memang menciptakan orang-orang baik.

Saya kenal banyak orang yang mendukung Hamas tapi tidak pernah terlibat dalam serangan teroris, misalnya. Mereka hanya mengikuti Hamas karena cinta Tuhan dan mengira bahwa Hamas mewakili Tuhan. Mereka tidak tahu sama sekali, mereka tidak mengenal Tuhan yang sebenarnya dan mereka tidak pernah mendalami agama Kristen. Tapi Hamas, sebagai wakil Islam, ini problema besar.

Problemnya bukan Hamas, bukan orangnya. Akar masalahnya adalah Islam itu sendiri sebagai sebuah ide, sebuah ideologi. Hamas sebagai sebuah organisasi, jelas, termasuk kepemimpinannya dan ayah saya, mereka bertanggung jawab atas semua kekerasan yang terjadi oleh organisasi itu. Saya tahu mereka menganggap diri sebagai reaksi atas agresi Israel, tetapi tetap saja, mereka bagian darinya dan harus mengambil keputusan dalam operasi-operasi melawan Israel, termasuk membunuh banyak orang sipil.

JONATHAN HUNT: Kau percaya bahwa Israel tidak bersalah dlm konflik ini?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Okupasi memang buruk. Tapi kami disini berbicara tentang ide. Israel memiliki HAK untuk membela diri, tidak ada yg bisa membantah ini. Kadang mereka menggunakan terlalu banyak agresi terhdp penduduk. Kadang banyak penduduk tewas karena tentara Israel kurang bertanggung jawab, tentang bagaimana mereka memperlakukan orang di checkpoints (pos-pos penjagaan).

Pesan saya kepada tentara Israel: setidaknya perlakukan orang dengan cara pantas di checkpoints. Tapi ini bukan masalah antar bangsa, tapi tentang ide-ide yang salah pada kedua pihak dan satu-satunya cara untuk keluar dari lingkaran setan ini adalah untuk mengenal prinsip-prinsip yang dibawa Yesus ke bumi ini: grace, love, forgiveness. Tanpa ini, mereka tidak akan pernah maju ataupun mematahkan lingkaran tak berkesudahan ini. [...]  

JONATHAN HUNT: Kau percaya bahwa Israel akan pernah mengadakan perjanjian damai dengan Hamas?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Tidak mungkin. Ini seperti api co-exist dengan air. Tidak mungkin. Hamas bisa main politik selama 10 tahun, 15 tahun; tapi tanya saja setiap pemimpin Hamas, 'Okay, apa yg akan terjadi setelah itu? Apakah kalian akan co-exist dengan Israel utk selamanya?' Jawabannya sudah pasti TIDAK... KECUALI mereka melakukan sesuatu yang melanggar Quran. Tapi itu sudah ideologi mereka dan mereka tidak akan beranjak darinya. Jadi, tidak mungkin. Ini bukan soal Israel, bukan soal Hamas: ini menyangkut kedua ideologi. Tidak mungkin.

JONATHAN HUNT: Kau tidak takut dibunuh karena mengutarakan hal-hal semacam ini — yang bahkan (pembunuhan atas dirimu) akan diridhoi oleh Quran?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Mereka harus membunuh pemikiran-pemikiran saya terlebih dahulu. Tapi pemikiran-pemikiran saya sudah beredar luas. Jadi, bagaimana mereka akan membunuh pemikiran saya? Bagaimana mereka akan membunuh pendapat-pendapat yang saya miliki? ...Mereka bisa bunuh tubuh saya, tapi tidak jiwa saya. [...]  

JONATHAN HUNT: Kau pernah diancam?

MOSAB HASSAN YOUSEF: No, not really. Jujur saja, banyak Muslim dan pemimpin Muslim di AS ini, di masyarakat Eropa, mencoba mencari saya. Mereka menelpon keluarga saya, ibu saya untuk mengetahui cara menghubungi saya. Mereka mengatakan kepada ibu saya, 'Kami ingin membantunya.'

JONATHAN HUNT: Mereka percaya kau butuh bantuan?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Yeah, mereka pikir saya dimanipulasi oleh orang-orang Kristen. Nah, disinilah mereka salah total. Saya sudah menjadi Kristen untuk waktu lama dan tidak seorangpun tahu. Sudah selama beberapa tahun sekarang. Tapi sekarang saya baru mengumumkannya.

Mereka tahu saya berpendidikan dan mendalami Islam & Christianity. Ketika saya mengambil keputusan, ini bukan karena saya kena jampi-jampi atau mencoba meyakinkan saya. Ini 100% keputusan saya seorang diri.

[...] JONATHAN HUNT: Apa pesanmu bagi para Muslim yg mendengarmu saat ini ?

MOSAB HASSAN YOUSEF: Pesan saya adalah, pertama-tama, bukalah pemikiran kalian. Mereka lahir dari keluarga-keluarga Muslim — inilah bagaimana mereka masuk Islam... seperti juga keluarga-keluarga Kristen maupun Yahudi.

Jadi, saya ingin mereka membuka mata, pemikiran mereka dan membayangkan diri mereka tidak lahir dalam keluarga Muslim. Untuk apa Tuhan memberikan mereka otak? Bukalah hati kalian. Baca Injil. Pelajarilah agamamu, Saya ingin membuka pintu gerbang bagi mereka. Saya ingin mereka bebas. Mereka pasti ingin hidup dengan baik di dunia dengan cara mengikuti Tuhan - dan mereka juga akan menemukan jaminan bagi hidup di akhirat.

Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=155180687834673