Minggu, 10 Oktober 2010

BEBAS DARI KUASA GELAP - KESAKSIAN TITIK DYAH

Shalom pasukan doa!

"Perut saya setiap sore di jam-jam tertentu itu sakitnya luar biasa, seperti ditusuk-tusuk pisau. Kalau sakitnya itu muncul... saya histeris. Saya melahirkan saja, tidak pernah histeris sampai teriak-teriak seperti itu," ujar Titik Dyah memulai kesaksiannya.Kejadian demi kejadian aneh mulai terjadi di rumah mereka. "Di rumah saya ada dua pohon jambu. Pohon jambu yang besar itu, daunnya sudah habis dimakan ulat. Saya tidak pernah melihat ulat yang seperti itu. Seumur-umur, baru sekali itu saya melihat ulat yang seperti itu. Meskipun saya taruh obor di bawah ulat itu, ulatnya tidak bisa mati. Tapi setelah saya sebut, ‘Dalam nama Yesus, enyah kamu!!', baru ulatnya mati," kisah Titik Dyah."Biasanya kan ulat kalau dipencet seperti itu pasti mati. Tapi ulat itu tidak bisa mati. Untuk matiinnya, kita harus baca doa dulu, ‘Dalam nama Yesus!!', baru mati," kisah Elisabeth Vabiola, putri Titik Dyah.

Misteri yang terjadi tidak hanya sampai di situ. "Ketika saya membuka pintu depan rumah, ada sesuatu yang aneh. Bau kemenyan yang tidak lazim. Saya teriak, ‘Dalam nama Yesus, dalam nama Yesus!!', baunya hilang," kisah Daniel Surya Saputra, putra dari Titik Dyah.Pada suatu malam, saat Daniel bersama dengan neneknya, ibunya Titik Dyah, sedang doa malam, tiba-tiba ada suara ledakan yang sepertinya berasal dari atap di atas kepala Titik Dyah yang sedang berbaring di kamarnya. Sakit perut yang luar biasa kembali menyerang Titik Dyah. Suatu pagi saat bangun tidur dan membuka pintu rumahnya, Titik Dyah sangat terkejut saat melihat dinding rumahnya dipenuhi ulat. Tak ada bagian dinding yang terlihat, semuanya ditutupi oleh ulat-ulat itu. Titik Dyah pun memanggil suaminya dan ulat-ulat itu dibersihkan dengan sapu. Karena sakit perut yang diderita Titik Dyah tak kunjung sembuh, di bulan September Titik Dyah pun memeriksakan kesehatannya ke dokter. Dan dokter menyarankan Titik Dyah untuk melakukan operasi pengangkatan rahim karena di dalam rahimnya ditemukan kista dan miom. Di ovarium sebelah kanan juga ditemukan kista.

Di bulan Maret, rahim Titik Dyah pun diangkat dan ditemukan banyak sekali kista dan miom di sana. Dan kistanya itu ternyata sudah lengket di tulang panggul sehingga harus dikerok, dan Titik Dyah kembali harus merasakan sakit yang luar biasa saat prosedur itu dijalankan.Berawal dari keanehan-keanehan di rumah mereka, vonis dokter hingga rahimnya diangkat, apa yang sebenarnya terjadi atas keluarga mereka? Apa yang harus Titik Dyah lakukan? Sementara itu, vonis dokter yang lain siap dijatuhkan atas Titik Dyah. Saat kandungannya di USG, ditemukan sebuah massa tumor yang besarnya sekitar 4-5 sentimeter. Dan dokter kembali menyarankan Titik Dyah menjalankan operasi lagi untuk yang kedua kalinya. Titik Dyah pun pulang, mencari dokter yang lain dan bertekad untuk tidak berobat lagi dengan dokter yang sama. "Saya berikan terapi medikemantosa seperti biasa dan anjuran fisioterapi. Tapi ternyata dalam perkembangan sepuluh hari saja, massa tumor itu membesar dua kali lipat daripada normalnya. Sehingga memang saya mencurigainya sebagai suatu keganasan, baru dari ovarium sebelah kanan saja," ujar Dr. Winarno Sarkawi, SpoG, dokter yang akhirnya menangani Titik Dyah.Penjelasan dan diagnosis dokter kedua pun mengharuskan Titik Dyah kembali menjalani operasi. "Saat operasi, dijumpai perlengketan yang hebat antara indung telur kanan dengan usus-usus di sekitarnya dan dijumpainya jaringan yang aneh di situ. Saya curiga ada suatu metastasis.

Akhirnya saya hanya melakukan biopsi saja, karena kalau dipaksakan untuk menyingkirkan usus tidak mungkin, bisa terjadi perlukaan yang hebat dari usus dan organ-organ di sekitarnya. Kasus-kasus keganasan dengan stadium akhir, biasanya banyak dokter juga sudah menyerah," ujar Dr. Winarno Sarkawi, SpoG menjelaskan kondisi Titik Dyah saat itu. Usaha demi usaha sudah dilakukan. Dokter sudah menyerah. Namun kondisinya tidak semakin membaik. Titik Dyah pun pasrah akan hidupnya."Kalau saya mati, saya yakin saya selamat di tangan Yesus," ujar Titik Dyah.Dukungan dari keluarganya membuat Titik Dyah bertahan dan bertindak. "Semua anggota keluarga, semua anak-anak saya, saya kumpulkan untuk berdoa. Lalu kemudian saya tidak merasakan sakit lagi," ujar Titik Dyah.Kebahagiaan melingkupi keluarga Titik Dyah. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Penyakitnya selalu kambuh setiap kali suaminya pulang dari luar kota di akhir pekan. "Saya gelisah, saya menangis sama Tuhan. Kalau memang saya sakit karena ada kuasa gelap, saya mohon Tuhan tunjukkan.

Bagaimana saya bisa mengampuni orang kalau saya tidak tahu siapa yang harus saya ampuni? Tunjukkan, saya janji dengan pertolongan Yesus, saya akan mengampuni dia," doa Titik Dyah.Keesokan harinya Titik Dyah melihat ada orang yang masuk ke kamarnya. Titik Dyah bingung bagaimana mungkin ada orang sekurang ajar itu, di saat suaminya sedang tidak berada di rumah, ia masuk ke kamar dan membuka bajunya. Titik Dyah pun mengangkat tangannya dan berseru, "Di dalam nama Yesus, setiap kuasa gelap ENYAH!!". Namun ternyata yang dilihat Titik Dyah adalah suaminya sendiri.Ternyata bayangan yang dilihatnya itu adalah relasi mereka sendiri yang menggunakan kuasa gelap. "Saya cerita kepada suami saya, saya berdoa untuk suami, saya menumpangkan tangan kepada suami, semua kuasa gelap enyah dari dalam tubuh suami saya. Tuhan memampukan saya untuk mengampuni orang lain meskipun dia berniat untuk membuat saya sakit.

Pada hari Minggu saya menonton acara rohani di TV, dan waktu itu hamba Tuhannya mengajak untuk berdoa. Saya berdoa, sembuhkan saya saat ini juga. Begitu saya selesai doa, amin, saya merasa perut saya itu seperti ditusuk-tusuk pisau, sakit sekali. Saya ke kamar mandi, teriak-teriak histeris di kamar mandi, dan suami saya datang, dia duduk di depan saya. 

Sambil berteriak histeris, saya jambak rambutnya. Saya seperti mau melahirkan, seperti mau membuang air besar yang sudah lama sekali. Saya tidak tahan, rasanya sakit sekali. Akhirnya sesuatu itu keluar. Bau busuk yang sangat menyengat, dan hanya setetes darah. Tuhan benar-benar menjamah saya. Saya tidak merasakan kesakitan lagi. Hasil USG menyatakan bahwa saya sudah tidak ada miom lagi. Kista yang tadinya besar sekali itu, sudah tidak ada lagi," ujar Titik Dyah menceritakan perihal kesembuhannya.

Kuasa Tuhan menghancurkan kuasa gelap di rumah mereka. "Saya tidak pernah lagi melihat ulat itu, tidak pernah mencium bau yang aneh-aneh, mendengar sesuatu yang orang lain tidak mendengarnya, semua hal itu sudah tidak saya alami lagi. Selama dua tahun saya sakit, saya tidak bisa melayani suami saya baik secara lahir maupun batin. Saya pernah menyarankan suami saya kalau mau mencari wanita lain, silahkan. Tapi rupanya suami saya justru lebih kuat. Dia mengatakan kepada saya, ‘Kamu jangan bilang begitu. Kalau kamu sakit, sakit itu bukan hanya untuk kamu. Itu untuk menguji iman kita.' Ternyata dengan pengampunan, Tuhan menyelamatkan saya," ujar Titik Dyah mengenai kebesaran Tuhan dalam hidupnya."Semua kegelapan itu, semua kuasa jahat itu, tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kuasa Tuhan kita," ujar Daniel Surya Saputra, putra Titik Dyah."Dalam nama Yesus, dalam kuasa Yesus,  kuasa manapun terkalahkan," ujar Titik Dyah menutup kesaksiannya.

YESUSKRISTUS

Sabtu, 09 Oktober 2010

ANAK MUSLIM MENYEMBUHKAN DALAM NAMA YESUS

Shalom pasukan doa!

SEORANG ANAK MUSLIM MENYEMBUHKAN DENGAN NAMA YESUS

Dear all,
               
Mungkin teman2 sdh dengar dan membaca (Harian Komentar Sabtu, 19 Mei 2007) 
tentang seorang anak di Kel. Madidir Unet Kec. Bitung Tengah, kota Bitung yang 
mempunyai karunia menyembuhkan orang2 sakit hanya dengan berdoa secara Kristen 
dan menyebut nama TUHAN YESUS dan seketika orang sakit itu jadi sembuh.
               
Saya informasikan (sumber dr bbrp orang yg melihat langsung maupun dari rekan2 
yg ada di Bitung) bahwa anak ini yg bernama Natalia Tahir (wanita), beragama 
Islam saat ini dia sekolah di kelas 2 SMA Negeri 2 Bitung.

Menurut cerita saat dia dalam kandungan, ibunya pernah bermimpi jika anaknya 
perempuan dan lahir tgl 25 Desember maka harus diberi nama Natalia, dan memang 
ini terjadi...anak perempuan ini lahir tepat tgl 25 Des shg oleh orang tuanya 
diberi nama Natalia.
               
Orang tuanya adalah keluarga muslim yg kehidupan sehari-hari sangat sederhana, 
bapaknya pengurus mesjid dan ibunya bekerja di salah satu perusahaan ikan di 
Bitung. Rumahnya hanya terbuat dari bambu dan berukuran kecil dan berada di 
perkampungan muslim. Anak ini pernah dihukum oleh orang tuanya krn sering 
berdoa menyebut nama Yesus dan menurut orang
tuanya membuat malu keluarga apalagi mereka beragama bukan Kristen. Saat itu 
anak ini diikat tangannya dan digantung kemudian dipukuli, krn orangtuanya 
merasa iba akhirnya dia diturunkan namun setelah itu anak ini malah bertanya 
kepada orangtuanya kenapa tangannya seperti ada tanda bekas diikat? Orangtuanya 
heran krn menurut anak itu dia tdk tahu apa yg dialaminya dan tdk merasakan 
saat dia dipukuli oleh orang tuanya.
               
Disekolah oleh teman2nya merasa heran krn anak ini sering menyanyi lagu 
"Mujizat Itu Nyata" pdhl dia bukan Kristen shg mereka beranggapan mungkin krn 
lagu ini sdh didengar umum (ada di Sinetron TV) shg orang non kristen juga tahu 
lagu itu. selain itu anak ini sering berkhotbah di lingkungan sekolahnya 
perihal kuasa mujizat itu.
               
Saat ini rumah mereka dipenuhi oleh orang2 yg ingin disembuhkan baik dari 
Bitung maupun dari luar daerah. Penyembuhan anak ini dimulai saat hari Kenaikan 
Isa Almasih (Kamis, 17 Mei 07) di mana dia masuk di salah satu gereja yg ada di 
Bitung dan informasi bahwa dia saat itu menyembuhkan orang yg lumpuh. Pelayanan 
doanya sesudah anak itu pulang sekolah (siang hari) dan berlangsung bahkan 
sampai subuh.                  

Seperti halnya Karunia seorang anak di Meko Sulteng, anak ini juga memiliki 
kesamaan dlm hal membaca pikiran/maksud orang yg datang ke rumahnya. Jika orang 
yg datang masih memiliki ikatan dosa (perselisihan, zinah, dll) maka orang ini 
akan diusir/suruh pulang. Ada juga orang muslim yg meminta didoakan tapi dll 
doa jangan sebut nama Yesus akhirnya orang ini tdk sembuh. Anak ini juga tdk 
mau di foto atau diambil gambarnya, menurut dia jika ada yg berhasil memfotonya 
maka hasilnya akan rusak.

Informasi dari teman2 sdh bbrp orang lumpuh yg bisa berjalan juga ada seorang
bapak tua yg buta saat ini bisa melihat setelah didoakan oleh anak ini, begitu 
juga
kemarin ada ibu yg perutnya bengkak setelah selesai didoakan langsung kempis 
perutnya. Hanya sampai saat ini anak tsb belum dibaptis (masuk Kristen) dan hal 
ini khususnya dilingkungan muslim sepertinya ditentang krn cara dia 
menyembuhkan orang bukan dgn cara agama mereka.
               
Saat ini juga belum ada pendapat dari kalangan tokoh2/hamba2 Tuhan/Pendeta 
perihal penyembuhan yg dilakukan anak ini. Kita sebagai orang percaya tentunya 
harus kembali kepada iman kristiani kita masing2. Kita percaya Tuhan dapat 
memberikan Karunia kepada siapa saja tanpa memandang usia dan pangkat 
seseorang, namun satu hal apakah orang yg diberi karunia tersebut juga 
mencerminkan pribadi Yesus dalam kehidupan sehari-harinya??!!!

....Tuhan Yesus memberkati.

hendra engelbert ruauw
bitung 
 
Sumber : http://www.mail-archive.com/jesus-net@yahoogroups.com/msg03859.html

Kamis, 07 Oktober 2010

YESUSKU TABIB YANG AJAIB - KESAKSIAN IBU KETTY LIGIANTO (UJUNG PANDANG)

Shalom pasukan doa!

Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

Pada awal tahun 1999 saya telah menyaksikan di kebaktian kaum Wanita
bahwa, anak saya mengalami kecelakaan tetapi selamat berkat
pertolongan Tuhan dan saya tidak merasa takut waktu mendengar kabar
dari Rumah sakit. Saya hanya berdoa mengucap syukur berterima kasih
kepada Tuhan sebab saya sangat yakin Tuhan ada bersama anak saya.
Tuhan pasti sudah menolong dia, karena satu minggu sebelum anak saya
kecelakaan, Tuhan sudah menyatakan kemuliaanNya yang indah. Sewaktu
saya berdoa saya melihat malaikat-malaikat kecil dengan memakai baju
putih meniup sangkakala bergandengan tangan, terbang di atas atap
rumah saya berputar-putar dan baju mereka terbang ditiup angin.
Penglihatan ini sangat indah dan menguatkan saya. Waktu berdoa itu
saya hanya mengucap syukur dan berterima kasih berulang-ulang dan
Tuhan menyatakan kemuliaanNya.

Pada tanggal 31 Januari 1999, kembali waktu saya berdoa mau tidur
malam, begitu saya tutup mata, untuk kesekian kalinya Tuhan
menyatakan kemuliaanNya. Saya dikaruniai penglihatan secara rohani,
di atas kepala atapnya (plafond) dalam kamar saya terbuka seperti
pintu dan ada cahaya yang sangat terang memancar ke tubuh saya yang
lagi berdoa. Saya tidak bisa tidur, kembali mengucap syukur berterima
kasih kepada Tuhan untuk penyataan itu, begitu baiknya Tuhan kepada
saya pribadi.

Begitu juga, kalau akan ada sesuatu yang akan terjadi, Tuhan sudah
ingatkan lebih dahulu kepada saya melalui penglihatan atau mimpi-
mimpi. Sungguh ajaib Tuhanku.

Pada bulan Maret saya ada mencoba minum obat pelangsing, tetapi pada
hari ke empat saya minum, perut saya mulai terasa sakit di sebelah
kiri. Saya berhenti minum obat ini, saya ke dokter kandungan, dan
yang ada dalam pikiran saya pasti ada "cista" di perut ini yang sudah
pecah atau bertambah besar. Apa yang saya pikirkan bukan itu yang
Tuhan berikan. Sebab apa yang tidak pernah kita duga, itulah yang
Tuhan berikan.

Begini awal mula penyakit saya. Pada tahun 1994 akhir saya datang
bulan dan selama menstruasi perut ini sangat sakit sampai sebelah
kiri. Setelah ke dokter, dokter katakan, ada cista di perut sebelah
kiri (hasil USG) hanya dengan operasi baru sembuh. saya hanya
berserah pada Tuhan. Bulan Juli 1995, saya sekeluarga jalan-jalan ke
Singapura. Saya cek up kembali di dokter kandungan, dan setelah di
USG, ternyata cista itu masih ada. Dokter di sana menyarankan saya
harus di haporoskopi yaitu : dokter akan membuat lubang 3 buah di
perut dan melalui sinar laser penyakit dalam perut itu akan
dihancurkan.

Malamnya saya berdoa, Tuhan, Engkau yang akan menghancurkan penyakit
ini dengan DarahMu. Besok hari saya putuskan tidak mau kembali ke
dokter. Saya datang sekeluarga ke Singapura untuk berlibur bukan
untuk tinggal di Rumah Sakit. Saya percaya Yesus selalu ada bersama
saya. Kembali pada tahun 1996, saya cek up kesehatan di Dokter
spesialis penyakit dalam dan hasil USG kembali menunjukkan penyakit
ini masih ada, dokter bilang kenapa tidak di operasi saja ?

Saya diam, saya tidak menjawab., sebab masih ada harapan bagi saya
bahwa Yesus sanggup menolongku. MujizatNya selalu dinyatakan kepada
keluarga saya.

Bulan Juni 1999, ibu saya menelepon saya dari Manado dan mengatakan
bahwa ada teman-temannya yang berdoa bersama-sama ibu saya dan dalam
doa itu ada nubuatan tentang saya, katanya saya di Ujung Pandang lagi
sakit perut sebab ada cista dalam perut saya tetapi Tuhan akan
menyembuhkan katanya. Hanya dengan iman saya aminkan nubuatan ini
kalau benar dari Tuhan. Kalau cobaan ini ada rencana Tuhan saya
menerimanya walau sakit, saya rela menderita bersama Yesus. Saya
hanya mengucap syukur dan berterima kasih atas cobaan ini. Saya mulai
mengingat-ingat Firman Tuhan yang pernah saya baca bahwa Tuhan akan
melalukan segala penyakit bagi orang yang percaya dan melakukan
FirmanNya. Tuhan tidak akan membiarkan kita tergeletak, tanganNya
pasti akan menopang. Dan Tuhan sudah memberi kuasa kepada kita dan
kita akan melakukan perkara-perkara besar, bahkan yang lebih besar
daripada yang sudah pernah Tuhan lakukan.

Puji Tuhan. Selama mengiring Tuhan banyak-banyak masalah dan cobaan
yang datang pada keluarga saya tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan
kami. Tuhan selalu menjawab doa-doa saya.

Banyak sekali mujizat yang Tuhan adakan pada keluarga saya. BerkatNya
melimpah, baik jasmani terutama berkat-berkat rohani. Tuhan sangat
baik, begitu dalam kasihNya pada keluargaku, tanganNya tidak kurang
panjang untuk menolong dan menjamah setiap masalah dan pencobaan yang
datang.

Saya sangat yakin Tuhan tidak akan membiarkan keluargaku dipermalukan
karena mengiring Dia. Saya selalu berserah kepada Tuhan, minta ampun
dosa salah dan kekurangan saya dengan hati yang hancur. Saya menagih
janji Tuhan yang terdapat di dalam Yohanes 14:14, "Jika kamu meminta
sesuatu kepadaKu, Aku akan melakukannya." Saya mengatakan
kepadaNya: "Tuhan, cobaan ini berat, rencanaMu yang jadi Ya Tuhan,
sebab rencanaMu, indah, Engkau menjanjikan masa depan yang penuh
harapan."

Dunia boleh merancangkan kejahatan tetapi Tuhan selalu dan selalu
merancangkan kebaikan. Saya percaya kepada janji-janji Tuhan. Kadang-
kadang sambil memasak atau bila ada di mana saja saya suka berbicara
dengan Tuhan. Saya juga berkata kepada iblis, "Hai iblis, engkau di
bawah telapak kakiku, engkau tidak berhak mengganggu kesehatan saya
sebab saya ini adalah milik Tuhan Yesus. Saya tumpang tangan diperut
yang sakit, saya percaya Tuhan akan menyatakan mujizatNya.

Menjadi kekuatan saya selalu kalau berada dalam masalah atau cobaan,
saya berdoa dan minta jawaban dari Firman Tuhan. Dan selalu begitu
membuka Alkitab, Tuhan langsung tunjukkan ayat-ayat yang indah yang
menguatkan. Kali ini yang saya dapat baca yaitu dalam Kitab Daniel
2:19,20. Daniel mendapat penglihatan dan memuji-muji Allah. Saya
terus ingat penglihatan waktu yang lalu, saya langsung memuji-muji
Tuhan. Rasanya cobaan ini menjadi ringan kalau bersama Tuhan. Tuhan
memberi hikmat dan pengertian pada saya.

Pada tanggal 19 Juli 1999 saya ke dokter kandungan. Saya katakan
kepada dokter, cista ini kambuh lagi. Saya sering sakit perut. Dokter
bilang operasi saja, angkat semua alat-alat reproduksi dan
menyarankan saya USG. Waktu pagi-pagi menunggu di ruang tunggu,
sementara menunggu giliran untuk di foto, saya duduk sambil menyanyi-
nyanyi dalam hati, saya mengucap syukur terus kepada Tuhan, dan
heran, saat itu saya merasa cobaan itu begitu ringan. Haleluya, Puji
bagiMu Tuhan.

Apapun yang dokter akan katakan sebentar, saya percayaTuhan adalah
tabib di atas segala tabib, tidak ada yang mustahil bagiNya. Dengan
iman saya yakin Tuhan Yesus sudah mengoperasiku. Saya akan mendengar
apapun yang akan dikatakan dokter dengan hati yang tenang, sebab air
sungai yang tenang dari surga sedang mengalir didalam hatiku.

Saya begitu tenang, tidak ada lagi ketakutan. Saya masih ketawa-
ketawa dengan suami saya. Dan biasanya kalau sementara USG, dokter
akan berbicara mengenai hasil foto yang sementara dia lakukan. Tetapi
kali ini dokter hanya berkata, anaknya ada berapa ? Oh kamu gemuk
sebab sudah lama suntik-suntik KB. Saya hanya menjawab iya. Saya juga
tidak berani bertanya, ada apa dilayar monitor USG itu ?

Sorenya, saya, suami dan anak-anak kembali ke dokter kandungan itu
untuk membawa hasil USG tadi pagi. Karena anak saya ingin tahu, dia
membuka foto-foto itu dan katakan, "mamie, semua normal, tidak ada
apa-apa mamie." Saya tidak mendengarnya, sebab pikiran saya hanya
tertuju kepada dokter yang akan menerangkan hasil USG itu. Waktu saya
dan suami di suruh masuk ke ruang periksa dokter dengan suara yang
nyaring berkata, "Tidak ada lagi cista, ini, lihat foto ini, sudah
hilang penyakit itu." Saat itu, air mata ini tidak terasa langsung
mengalir. Puji Tuhan ! Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Saya
katakan kepada dokter, "Saya sudah yakin, Tuhan pasti adakan
mujizatNya.

Sungguh ajaib Yesusku. Saya juga menyaksikan pada dokter mujizat-
mujizat yang sudah pernah Tuhan nyatakan pada waktu-waktu yang lalu
pada keluargaku. Lidah ini rasanya tidak mau berhenti mengucap syukur
kepada Tuhan. Memang benar, Tuhan hanya sejauh doa kita. Dengan rajin
berdoa, mencari wajahNya, dan yakin iman dapat mengalahkan segala
perkara, pasti Tuhan Yesus menolong. Hari-hariku terasa sangat indah
dan penuh sukacita berjalan bersama Tuhan. Semua indah pada waktunya.

 YAHOO

AJAIB! 12 PASANG IGA PATAH DAPAT BERTAUT KEMBALI

Shalom pasukan doa!

Pukul 05.15 WIB, 6 November 1999, saya (Yeyen), suami saya (Achin), dan anak bungsu kami (Vincent), hendak ke Gambir. Waktu itu kami berencana bertemu ibu saya di Bandung sebab ia sakit kanker payudara dan akan dibawa ke sinshe. Baru saja kami keluar dari gang, tepatnya di jalan arteri Palmerah, Jakarta Barat, sebuah mobil boks dari arah belakang tiba-tiba menyambar tubuh saya. Saya pun terjatuh ke arah trotoar dan kaki saya terlindas ban mobil.

"Minggir!" saya berteriak mencoba mengingatkan suami saya yang berjalan di depan. Namun karena kurang cepat bergerak, bress...! mobil yang sama menghantam muka suami saya sampai dia terjatuh. Sungguh mengerikan, suami saya jatuh ke arah jalan sehingga badannya masuk di bawah kolong mobil dan, kress...!, ban belakang mobil itu menggilas tubuhnya. Saya melihat dengan mata kepala sendiri ketika ban mobil itu menggilas dadanya dan menyeretnya sejauh kurang lebih 1 meter. Melihat kondisinya yang sangat parah, membuat saya lupa pada sakit saya sendiri. Spontan saya berteriak, "Tuhan Yesus, tolong! Tuhan Yesus, tolong!"

Mobil langsung lari tidak terkejar lagi. Saya hanya bisa jongkok di pinggir jalan sambil memangku suami. Karena lukanya sangat parah, tiba-tiba terlintas di benak saya, jangan-jangan suami saya umurnya tidak akan lama lagi. Karena pemikiran ini, saya seolah dituntun untuk mengatakan padanya demikian, "Kamu harus bertobat, minta ampun." Kata-kata ini saya sampaikan karena saya tahu, meski suami saya sudah Kristen dan dibaptis setelah 14 tahun kami menikah, namun ia jarang sekali ke gereja. Kalau saya ajak ke gereja, ia biasanya marah-marah bahkan mengajak bertengkar. "Pokoknya kamu harus minta ampun," kata saya berulang-ulang.

Tidak lama kemudian, taksi datang. Saya menyuruh anak saya, Vincent, untuk pulang. Di dalam taksi, kami ditemani oleh seorang tetangga. Sepanjang perjalanan, saya hanya bisa bernyanyi dan berdoa. Selain itu, saya terus meminta suami saya untuk bertobat, minta ampun pada Tuhan. Mendengar anjuran saya, ia memberikan respons. Dia berkata lirih, "Tuhan Yesus, ampuni saya." Saya pun menimpali, "Jangan berhenti panggil nama Yesus. Bilang, 'Darah Yesus tolong saya!'"

"Darah Yesus, darah Yesus, darah Yesus," kata-kata ini diulang-ulang suami saya hingga kami tiba di RS Pertamina.

Tiba di rumah sakit, suami saya langsung masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Ia langsung ditangani secara cepat. Kurang lebih 15 menit kemudian, hasilnya sudah dapat diketahui. Benar dugaan saya, kondisi suami saya memang betul-betul parah. Tulang rusuk bagian depan dan belakang, hampir semuanya patah. Dokter mengatakan, "Secara teori, seharusnya sulit untuk bertahan. Tidak ada kesempatan lagi." Kalau sebelumnya pada sepanjang perjalanan saya berdoa dan menyanyi, dan bisa menahan untuk tidak menangis, kini setelah tiba di rumah sakit, lebih-lebih setelah tahu hasil rontgen suami, air mata saya keluar dengan derasnya. "Tuhan, saya tidak kuat," bisik saya sambil menghubungi pendeta saya, Bapak Mulyadi Sulaeman. Pada saat saya mengatakan "tidak kuat", tiba-tiba ada suara yang berbisik, "Tuhan tidak akan mengujimu melebihi kekuatanmu." Saya pun berkata, "Tuhan kuatkan saya. Amin." Ketika selesai mengatakan hal itu, saya langsung mendapatkan kekuatan baru. Saya pun menjadi tegar.

Tidak berapa lama Pak Mulyadi datang. Kepada beliau saya berkata, "Om, tolong dijaga ya, saya sudah tidak tahan." Luka suami saya memang sangat parah. Celana jean yang ia pakai saat terjadi kecelakaan robek. Karenanya, wajar saja kalau kakinya penuh luka dan di pahanya ada luka yang sangat besar. Untuk mengeluarkan darah akibat paru-paru yang mengalami pendarahan, dada suami saya dilobangi. Pak Mulyadi sendiri, mungkin karena melihat harapan untuk hidup begitu kecil, dengan lirih ia menasihati, "Kamu yang sabar saja ya, Yen. Kalau Tuhan memanggil suamimu, kamu harus kuat." Saya mengangguk. Saya bisa memahami ucapannya karena memang menurut kalkulasi manusia, kemungkinan yang terbesar adalah kematian. "Om, saya pasrah. Saya rela suami saya dipanggil sekarang daripada menunggu nanti tapi belum bertobat. Kalau Tuhan mau panggil, panggillah," demikian jawaban saya penuh kepasrahan.

Kondisi suami saya betul-betul kritis. Paru-parunya tidak bisa bekerja dengan baik alias tidak bisa mengembang sehingga pernafasannya diatur oleh mesin. Mulutnya sudah tidak bisa berfungsi. Makanan dimasukkan lewat infus melalui satu lubang hidung, sementara lubang yang satunya untuk nafas. Leher juga dilubangi untuk "CPP", yang dipakai untuk mengontrol suhu tubuh. Melihat keadaannya yang seperti ini, pada hari ketiga dokter kembali berkata, "Ibu berdoa saja. Yang bisa menolong suami Ibu hanya imannya sendiri." Saya tahu kalau dokter sudah berkata begitu berarti harapan secara medis sudah tidak ada. Karena berdiri di dekat tempat tidur, suami saya dapat mendengar apa yang dikatakan sang dokter. Saya pun kembali menegaskan kata-kata dokter. Kata saya, "Kamu tidak usah khawatir. Seperti dikatakan pak dokter tadi, yang bisa menolong kamu itu hanya imanmu. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tuhan itu baik, kamu sekarang sebenarnya sedang ditegur Tuhan. Sekarang kamu bersyukur saja. Ampuni orang yang menabrak kamu."

Saya betul-betul heran dengan kata-kata saya sendiri, terutama seruan untuk mengampuni sopir yang telah menabraknya. Saya yakin hikmat itu datangnya dari Roh Kudus. "Sudah jangan ingat-ingat lagi. Kamu jangan marah. Saat kamu mengampuni orang yang menabrak, Tuhan Yesus pasti mengampuni kamu. Ketika dosa kita diampuni, maka apa yang kamu minta pasti Tuhan dengar, sebab penghalang doa kita menurut firman Tuhan tak lain adalah dosa kita," tegas saya lagi. Sejujurnya, antara iman saya dan kenyataan waktu itu bertentangan, tapi saya harus belajar beriman. Di ruang ICU saya tetap berdoa, menyanyi, dan membacakan Alkitab untuk suami saya. Kalau saya sedang menyanyi seluruh ruangan bisa mendengar. Mereka memandangi saya. Mungkin mereka membatin, "Bagaimana mungkin suaminya sakit parah ia masih bisa menyanyi?"

Hari terus bergulir. Setiap kali dokter jaga datang, saya selalu menanyakan kondisi suami saya. Jawaban dokter selalu sama, "Tetap saja, belum juga membaik." Suatu kali, saat saya mengajukan pertanyaan yang sama, jawaban dokter demikian, "Tunggu besok, ya. Kalau besok tidak panas berarti mendingan, tapi kalau panas itu artinya berbahaya." Esoknya suhu badan suami benar-benar panas hingga 40 derajat. Suster di belakang saya saling berbisik, "Wah, tidak mungkin hidup." Tapi suami saya dapat melewati masa kritis itu dan panas itu akhirnya turun. Saya terus berdoa. Mata saya benar-benar hanya tertuju pada Tuhan Yesus.
Hari keenam, pukul 09.00 WIB, keadaan suami kritis lagi. Suami saya pingsan. Untuk menyadarkannya ia harus ditepuk-tepuk bergantian oleh para suster. Saya segera dipanggil oleh dokter. Katanya, "Keadaan Bapak...." Namun, sebelum dokter itu meneruskan kata-katanya, saya langsung memotongnya, "Entahlah Dok, saya tidak mau mendengarkan apa yang Dokter katakan. Jika Dokter ingin mengatakan sesuatu, katakan saja kepada pendeta saya." Dokter itu diam dan saya segera keluar menelepon pak pendeta. Saat itu saya sendirian. Pekerja gereja yang setiap malam menemani saya pagi itu sudah pulang. Setelah menunggu agak lama, pak pendeta akhirnya datang. Saya tetap di luar karena takut. Ketika pak pendeta masuk ia mendapati pengukur detak jantung suami saya sempat lurus. Namun, 2 jam kemudian bergerak lagi dan kembali pada posisi semula. Kira-kira pukul 11.00 WIB, karena desakan pak pendeta, saya pun mau masuk ke kamar rawat suami saya. "Ko, ko, ko," begitu saya memanggil suami dan ia menyahut. Karena sudah sadar saya tidak takut lagi. Sekali lagi ia selamat.

Cahaya Terang Masuk ke Kamar ICU

Malam hari setelah peristiwa yang menegangkan itu, anak saya yang pertama, Michael, datang bersama 2 orang temannya. Mereka bukan orang Kristen. Kami di tempat itu berenam -- Michael dengan 2 orang temannya, saya, seorang pekerja gereja, dan seorang teman saya. Kira-kira pukul 22.00 WIB kami berdoa bersama di lift. Karena saya ingin menghormati teman Michael yang bukan Kristen, saya bilang, "Kita berdoa dalam hati saja, berdoa menurut kepercayaan masing-masing." 

Selesai berdoa, teman Michael yang bukan Kristen mengatakan, "Michael, waktu kita berdoa, saya melihat ada cahaya terang sekali masuk ke kamar ICU."
"Ma, Agung bilang, waktu berdoa ia melihat sinar masuk ke kamar ICU," kata Michael sembari menyebut nama temannya.
"Lho, kamu sedang menutup mata, bagaimana bisa lihat?" tanya saya.
"Ya, waktu menutup mata itulah saya melihatnya,"jawab Agung mantap.
"Saat melihat cahaya itu, apa yang kamu rasakan?" pertanyaan ini saya ajukan sebab di kamar ICU memang sering terjadi peristiwa aneh-aneh. Saya khawatir cahaya itu bukan dari Tuhan tapi dari setan.
"Perasaan saya damai," jawab Agung. Mendengar cerita dan jawaban Agung, saya langsung mengimani bahwa Tuhan sedang melawat suami saya. Melihat buahnya saya yakin sinar itu merupakan manifestasi Roh Kudus. Saya percaya, kalau ada lawatan Allah pasti sesuatu akan terjadi. Dari kesaksian Agung itu, iman saya kembali dibangkitkan, saya yakin suami saya pasti sembuh. "Terima kasih Tuhan," ujar saya penuh syukur.

Hari berikutnya, saya bertanya pada dokter ahli paru-paru dan mendapat jawaban menggembirakan, "Sudah ada sedikit perbaikan." "Terima kasih dokter, puji Tuhan!" ujar saya spontan, pokoknya saya terus imani dari hal yang kecil pasti akan terjadi hal yang besar. "Jangan berterima kasih pada saya, berterimakasihlah pada Tuhan," jawab dokter itu. Tadinya saya tidak tahu, ternyata dokter itu memang saudara seiman. Keadaan ini terus membaik. Setelah dirawat di ICU selama 5 minggu, suami saya dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Keadaan di ICU sungguh berkesan. Kehadiran saya paling tidak telah membuat orang-orang yang tegang sedikit merasa terhibur. Saya percaya ketika kita menyembah Tuhan lewat nyanyian, hadirat Allah ada di ruangan itu. Hal inilah yang mungkin membuat suasana di ICU menjadi hidup dan lebih nyaman. Sampai-sampai kalau saya tidak bernyanyi, saudara yang tak seiman pun bahkan sering bilang, "Ayo nyanyi, dong. Kalau kamu tidak nyanyi sepi, lho!" Ada juga yang mengatakan, "Suaramu merdu lho." Wah heran juga saya, sebab seumur-umur baru kali ini suara saya dipuji.

Di ruang perawatan biasa, kesehatan suami saya semakin cepat pulih. Di ruang ini suami hanya dirawat selama 2 minggu dan herannya setelah dirontgen, tulang-tulang rusuknya yang patah dinyatakan telah tersambung kembali! Tanggal 30 Desember 1999, suami saya keluar dari rumah sakit. Waktu pulang suami saya sudah normal. Ia sudah dapat berjalan dan tidak memakai alat bantu apa pun. Ia juga tidak pantang makan. Tanggal 31 Desember 1999, suami saya sudah ke gereja. Akhir 1999, sungguh menjadi saat yang manis bagi keluarga kami, sebab tidak saja pada tahun itu suami saya mengalami mukjizat kesembuhan, tapi kerinduan saya dan anak-anak untuk pergi ke gereja bersama ayahnya sudah dijawab Tuhan.

SABDA

PENGANIAYAAN ORANG KRISTEN DI CINA

Shalom pasukan doa!

KEADAAN YANG BURUK DI PENJARA

Ruth duduk di atas lantai yang kotor. Perasaannya dipenuhi keinginan untuk memberontak karena bau busuk yang begitu menyengat dan meliputi udara di dalam sel. Ruth tidak bisa mengingat bau benda apa yang lebih busuk dari bau ruangan ini. Di dalam sel ini tidak ada toilet, bahkan tidak ada satu lubang kecil untuk pembuangan kotoran. Sedikitpun tidak tersedia air di tempat itu. Di Cina, khususnya selama masa kebrutalan revolusi kebudayaan, para tahanan benar-benar tidak diperhatikan.

Ruth bisa merasakan binatang-binatang kecil merayapi tubuhnya seperti laba-laba, kecoa, dan tikus. Nyamuk-nyamuk yang haus akan darah berdesingan di mana-mana. Kegelapan meliputi tempat itu. Begitu gelapnya sampai Ruth tidak bisa melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Pikirannya sedang melamunkan tiga orang anaknya, Daniel 10 tahun, Joseph 8 tahun, dan Mary 5 tahun, yang ditinggal sendirian di rumah. Ruth bersama dengan suaminya, Michael, telah ditawan dan dimasukkan ke dalam sel tahanan. 

TRAGEDI YANG MENGENASKAN

Dalam kegelapan itu, tiba-tiba ada suara seorang teman yang bertanya, "Apakah kamu punya anak?" Mendengar pertanyaan yang seakan-akan mengerti pikiran dan perasaannya, Ruth menjawab, "Ya, ada tiga orang. Sebenarnya saya telah melahirkan empat orang anak, namun seorang di antaranya telah mati." "Apa yang terjadi?" Ruth tidak bisa menjawab. Untuk sesaat air matanya menglir membasahi pipinya. "Tuhan, tolonglah aku untuk mempermuliakan Engkau dalam segala sesuatu," dia berdoa.

Akhirnya dia mulai menceritakan kisah tragis yang menimpa anaknya ini. Dengan suara pilu dia berkata, "Peter," Ruth menyebut nama anaknya ini, "Tiga tahun yang lalu ketika dia berumur 11 tahun, rumah kami digeledah dan didatangi oleh Tentara Merah (Red Guards). 

Ada beratus-ratus orang yang datang dan memeriksa tempat kami. Mereka telah mengetahui bahwa saya dan suami saya adalah seorang pemimpin dari banyak 'gereja rumah' di daerah itu. Mereka menendang roboh pintu rumah kami, mengikat suami saya dan menggunduli kepala kami berdua. Mereka menodongkan senjata di atas kepala kami dan berteriak, "Di mana Alkitabmu? Di mana rekan-rekan yang bersamamu? Di mana kamu melakukan pertemuan?" Karena kami menolak untuk menjawab, mereka mulai menghancurkan perabot-perabot rumah kami dan seisi rumah kami diporak-porandakan. 

Untuk tiga hari tiga malam kami tidak diizinkan makan, minum, atau tidur. Mereka melihat empat orang anak kami dan mereka membariskan mereka di atas bangku. Ketika anak kami kelelahan, mereka memukuli anak-anak kami dan memerintahkan untuk terus berdiri di atas bangku. Karena saya dan suami saya tidak mau menajwab saat ditanyai, maka Tentara Merah mulai menginterogasi anak-anak kami. 

Tetapi anak-anak kami juga menolak untuk bekerja sama. Mereka mengetahui bahwa hidup atau mati, mereka harus mengakui nama Tuhan Yesus dan jangan pernah menyebutkan nama atau identitas rekan-rekan pekerja Kristen yang lain. Dengan kasar mereka mulai memukuli anak kami lagi. Peter diseret keluar rumah dan giginya mulai dicabuti. Dia dipukuli hingga berdarah. Akhirnya mereka melemparkan dan meninggalkan tubuhnya yang sudah lumpuh di atas lantai. 

Suami saya dibawa dan dipekerjakan secara paksa di kamp militer pekerja berat. Saya segera membawa Peter ke rumah sakit. Dokter mengatakan tidak ada harapan karena anak ini telah banyak mengeluarkan darah. Saya dieberitahu untuk mempersiapkan pemakaman baginya. Mereka juga telah memberikan surat-surat yang diperlukan untuk proses pemakaman. Pihak yang berwenang mengizinkan suami saya untuk meninggalkan kamp kerja paksa untuk sesaat dan menjenguk Peter di saat menit-menit terakhir sebelum Peter dijemput Tuhan. 

Ketika melihat ayahnya datang, Peter sangat gembira. "Ayah dan ibu," katanya, "Banyak orang yang mengenakan jubah hitam saat mereka mati, tetapi saya ingin berpakaian jubah putih, supaya saya kelihatan indah saat bertemu dengan Tuhan Yesus." Kami menangis dan sangat berduka karena dia. Dan kami berdoa bersama-sama supaya nama Allah dipermuliakan. 

Karena musim hujan pada waktu itu, maka semua jendela di tempat itu ditutup. Tetapi ketika kami selesai berdoa, satu jendela terbuka dan ada angin sejuk berhembus masuk memenuhi ruangan. Roh penghibur datang memasuki hati kami. Peter berbisik perlahan, "Yesus telah datang untuk membawaku pulang. Selamat tinggal." Wajahnya dipenuhi dengan sukacita. Bahkan dokter yang hadir saat itu digerakkan untuk berkomentar, "Saya belum pernah melihat orang yang mati penuh kedamaian seperti ini." Ketika kami pulang ke rumah, anak-anak kami yang lebih muda dari Peter mengagetkan kami dengan kegembiraan yang luar biasa. Mereka berkata, "Kami tidak bisa tidur, karena kami melihat kumpulan besar malaikat-malaikat di sekeliling rumah. Mereka membawa alat-alat musik dan menyanyi untuk kami. Mereka mengatakan bahwa mereka datang untuk membawa Peter bersama-sama dengan mereka ke Sorga." Saya menjelaskan, "Kakakmu telah pergi bersama-sama dengan Tuhan Yesus." Dan mereka semua menangis. Peter begitu mengasihi adik-adiknya ini dan mereka juga membalas kasihnya dengan rasa sayang yang sangat besar."

MENGGANTI KEBENCIAN DENGAN KASIH

Ada kesunyian yang panjang dalam sel itu. Tetapi kemudian Ruth mulai bisa mendengar suara tangisan yang berasal dari berbagai tempat di sel gelap itu. Tiba-tiba terdengar suara teriakan kemarahan, "Terkutuklah orang-orang Tentara Merah! Kenapa mereka melakukan hal yang keji seperti ini? Saya berharap bisa mencekik leher orang-orang ini dan membunuh mereka!"

"Jangan! Jangan!" Ruth berteriak, "Kalian jangan membenci mereka. Ini adalah dendam dan lingkaran kepahitan. Yesus mengajarkan supaya kita mengasihi semua orang bahkan mengasihi musuh-musuh kita. Setiap hari saya berdoa untuk Tentara-Tentara Merah ini, supaya mereka segera menemukan dan mengenal Yesus. Dengan cara yang sama, saya juga telah berdoa bagi kalian semua. Kalian semua juga kekasih-kekasih yang dicintai Tuhan Yesus."

"Hah!" cetus seseorang dengan geram, "Kalau Yesus sungguh-sungguh mengasihi saya, kenapa saya ada di sini, di dalam sel yang kumuh ini?" Ruth mulai menjelaskan bagaimana sel yang kotor ini sama seperti dosa mereka. Hanya Salib Yesus yang sanggup menjembatani jurang antara orang-orang berdosa dengan Allah yang kudus. Yang mereka butuhkan adalah mengakui dosa-dosa mereka dan meminta Yesus menjadikan mereka manusia yang baru. 

Sekali lagi ada kesunyian yang panjang dalam penjara itu. Dan satu persatu anggota sel itu mulai bertekuk lutut di sampingnya, penuh tangisan mengakui dengan keras segala dosa-dosa mereka dan memohon Yesus menyucikannya. "Terima kasih, Tuhan," Ruth berdoa, "Sungguh Engkau bisa mengubahkan segala sesuatunya menjadi baik."

Kesaksian ini menggambarkan betapa hebatnya aniaya dan penderitaan yang dialami gereja-gereja Tuhan di Cina. Namun semua yang dialami orang-orang ini seakan-akan memancarkan kemuliaan Tuhan yang semakin terang dan menjadi kesaksian atas seluruh bangsa di dunia. Keteguhan iman mereka teruji dalam dapur api. Mereka bukan cuma mengakui Yesus dengan mulut mereka, tetapi mereka membayar pengakuan mereka ini dengan aniaya dan penderitaan. 

Mereka belum pernah merasakan datang ke gereja tiap Minggu, bernyanyi memuji Tuhan, bersukacita, dan mengharapkan untuk hidup dalam kelimpahan. Yang ada pada mereka adalah gereja bawah tanah dan ibadah yang sembunyi-sembunyi. Mereka dikejar-kejar oleh tentara militer, dan rawan dengan aniaya. Pengakuan iman mereka teruji dengan tindakan yang nyata. 

Kuasa Injil betul-betul dinyatakan dalam kehidupan mereka. Mereka mempertahankan iman dengan nyawa mereka. Tidak ada sesuatupun yang dapat menggoyahkan iman mereka di dalam Tuhan. Iman seperti inilah yang dicari Tuhan.
"... Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:8)

PENGINJIL CINA MEMBUTUHKAN DOA SAUDARA

"Saya begitu sendirian. Saya menghadapi pikiran untuk bunuh diri ketika tidak bisa tidur setiap malamnya. Saya sangat merindukan untuk memenangkan banyak jiwa bagi Tuhan, namun tidak seorangpun yang mau mendengar. Semua orang memandang rendah dan meremehkan saya. Penghiburan saya hanyalah
Yesus yang telah mengalami dan menjalani semuanya ini, penderitaan, aniaya, diremehkan, dan direndahkan."

Bagian dari surat penginjil Cina ini memberikan gambaran bahwa banyak daerah-daerah di Cina yang belum meresponi panggilan Tuhan. Bahkan kalau seandainya kita memasukkan 70 juta orang Cina Kristen (orang yang meresponi Injil Kristus) dalam hitungan, hitungan ini hanya mencapai kurang dari 7% saja orang Cina yang percaya dan meresponi Injil Kristus. Berdoalah supaya Tuhan meneguhkan setiap penginjil-penginjil yang melayani desa-desa kecil di seluruh Cina, supaya mereka berada dalam kondisi rohani yang berapi-api.

Tragisnya, orang yang menulis surat ini telah dikubur 2 tahun lalu. Tidak ada seorangpun yang tahu apakah ia bunuh diri atau dibunuh.

"Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Wahyu 12:11)

KESAKSIAN

Senin, 04 Oktober 2010

ANAKKU DISEMBUHKAN TUHAN YESUS!

Shalom pasukan doa!

Saya berlatar belakang Konghucu dalam keluarga bisnis dan punya anggapan bahwa segala sesuatu bisa beres dengan "uang" dengan bahasa lain "the power of money". Berawal dari anak saya yang sakit panas, seperti biasanya orangtua membawa anaknya yang sakit ke dokter anak terdekat dan langganan.
Suatu hari anak saya sakit panas dan saya bawa ke dokter anak, diberitahukan oleh dokter bahwa anak saya sakit panas disebabkan karena kelelahan. Obat dari resep pertama habis tetapi panas masih naik turun, saya bawa lagi ke dokter dan dikatakan karena kecapekan dan anehnya setelah 3 resep obat habis tapi panas tidak hilang. Dengan analisis dokter bahwa anak saya cuma kecapekan, karena penasaran saya bawa ke "Prof. Dr. spesialis anak."

Setelah diperiksa hanya menggunakan stetoskop, sendok lidah  dan batrei senter, diketahui bahwa anak saya mengalami "kebocoran paru-paru" dan harus segera diopname. Kami bawa untuk diopname di salah satu rumah sakit besar di Bandung dan setelah 4-6 hari sembuh. Dalam hati saya berpikir "sungguh hebat prof. dr. itu, hanya dengan peralatan sederhana saja sudah mampu mendeteksi penyakit yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh dokter lain dan yg lebih hebatnya bisa memberikan resep obat yang demikian akurat sehingga dalam tempo yang singkat penyakit itu bisa di-"kalah"-kan. Beberapa bulan kemudian anak saya kembali sakit dan karena saya sudah kenal dokter yang "hebat", maka saya percaya bahwa uang yang saya bayarkan kepada dokter itu mampu manyambuhkan penyakit anak saya. Alhasil dalam waktu 4-6 hari opname pun anak saya sembuh. Demikian hingga beberapa kali saya yakin bahwa dokter itu mampu dan hebat, hingga suatu kali TUHAN menyadarkan saya bahwa kekuatan manusia sangatlah terbatas dan hanya kekuatan dan kuasa-Nya yang tidak terbatas.

Suatu kali anak saya kembali sakit dengan penyakit yang mirip dengan panas dalam hingga bibirnya mengering dan pecah-pecah dan meneteskan darah. Saking perih yang dirasakan oleh anak saya, dia tidak mau makan dan minum melalui mulut, hanya melalui selang infus yang menyakitkan nutrisi-nutrisi itu di terima oleh tubuh anak saya. Setelah beberapa hari dirawat inap dan ditangani oleh dokter yang saya andalkan bahwa dokter itu mampu menyembuhkan penyakit yang diderita anak saya, saya tanyakan apa penyakit yang diderita oleh anak saya? dia bilang tidak tahu, harus tunggu hasil dari laboratorium dulu baru ketahuan dan bisa ditangani penyakitnya. Tetapi setelah hasil laboratorium keluar, ternyata prof. dr yang saya banggakan dan saya andalkan tidak mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh anak saya, bahkan untuk mengetahui jenis penyakitnya pun prof. dr. itu tidak mampu. Disitu saya shock dan frustasi. Kemana lagi saya harus mencari tempat bergantung? yang bisa saya lakukan hanya menangis dan berdoa. Tetapi doa saya salah, karena saya bukan minta kepada TUHAN untuk menyembuhkan sakit penyakit anak saya, tetapi saya meminta agar TUHAN menghentikan derita anak saya dengan cara "mencabut" nyawa anak saya.

TUHAN sungguh baik, sangat baik. DIA menjawab doa saya dengan mengirimkan dua orang pendeta  yang sebelumnya tidak pernah saya dapatkan. DIA mengirimkan pendeta itu untuk memperbaiki doa saya yang salah. Keesokan harinya setelah prof. dr. itu menyatakan tidak tahu jenis penyakit yang diderita oleh anak saya, datang dua orang pendeta menyapa dan bertanya:
"selamat pagi, anaknya sakit apa?" Saya jawab tidak tahu. Pendeta bertanya lagi, "menurut dokter sakit apa?" Saya jawab: "dokter pun tidak tahu" "tapi bapak mau anaknya sembuh?" tanya pak pendeta. "Mau!" jawab saya. Dan pendeta berkata, "biar dokter di sini tidak tahu dan tidak sanggup, kita masih punya 'DOKTER di atas segala dokter' dan DOKTER ini mampu dan sanggup. Maukah bapak meminta bersama saya?" Saya jawab dengan antusias, "mau!" "Bapak percaya?" Saya anggukan kepala. Kemudian pendeta itu mengajak saya berdoa bersama meminta kesembuhan atas anak saya. Didalam saya mendengarkan doa yang dipanjatkan oleh pendeta itu, saya menangis, menangis dan menangis. Rupanya TUHAN punya rencana yang sangat indah melalui penyakit itu. Puji TUHAN, walaupun dokter yang di dunia tidak sanggup mendeteksi jenis penyakit yang diderita oleh anak saya, tetapi TUHAN sanggup menyembuhkannya. Halleluya, terima kasih TUHAN YESUS, ENGKAU kirimkan malaikat-Mu. Sungguh tak terbatas kuasa-Mu, semua dapat KAU lakukan, apa yang kelihatan mustahil bagi manusia, itu sangat mungkin bagi-Mu. Di saat ku tak berdaya, kuasa-Mu yang sempurna... ketika ku percaya, mujizat itu nyata. Bukan karna kekuatan, tapi roh-Mu ya TUHAN, ketika ku berdoa, mujizat itu nyata.
Amin.

(Sumber : Glorianet)

RIBUAN ORANG ANTRI DISEMBUHKAN DALAM NAMA YESUS DI AMBON

Shalom pasukan doa!

Jika beberapa waktu lalu sering muncul fenomena dukun cilik, kini di Ambon muncul fenomena kesembuhan yang dilakukan oleh seorang pria berusia 35 tahun. Yang membuat hal ini berbeda, pria yang bernama Pieter Aihua ini hanya menaruh tangannya pada bagian yang tubuh orang sakit dan berdoa dengan nama YESUS.

Menurut berita yang dirilis oleh Reformata, kejadian ini berawal saat Pieter sedang berada di salah satu rumah sakit di Ambon untuk menjalani operasi usus buntu. Saat tertidur, ada pasien lain yang melihat ada Cahaya yang masuk ke tangan Pieter. Tangan Pieter langsung diangkatnya dan diletakkan pada bagian tubuhnya yang sakit, dan orang tersebut sembuh.

Pieter pun langsung sembuh bahkan menyembuhkan semua orang yang ada di rumah sakit tersebut hanya dengan jamahan tangannya. Sejak itu, berita ini menyebar dari mulut ke mulut dan ribuan orang mengantri di rumah Pieter. Reformata menuliskan sekitar 7.000 orang tercatat pada buku registrasi pasien sejak 13 Mei 2010.

Sekalipun yang datang untuk berobat kepada Pieter datang dari berbagai agama, namun Pieter membuat prosedur penyembuhan sesuai imannya. Para pasien mengawali dengan menyanyikan puji-pujian bersama dari Kidung Jemaat. Setelah itu, pasien mengantri berdasarkan nomor urut. Selanjutnya, pasien akan dipanggil dan menemui Pieter. Pasien akan ditanya Pieter, “Kamu yakin mau sembuh?” Lalu ditanyakan bagian mana yang sakit dan di doakan sambil dijamah pada bagian yang sakit.

“Pieter tidak memakai apa-apa untuk mengobati, dia hanya bertanya tentang keyakinan saya untuk mau disembuhkan Tuhan. Kemudian dia berdoa, dan menjamah bagian tubuh saya yang lemah,” demikian cerita Emy, seorang wanita tua yang terharu dan merasa lebih kuat setelah didoakan oleh Pieter.

Emy percaya bahwa Pieter hanya alat Tuhan, namun dia percaya bahwa YESUS Kristuslah yang menyembuhkannya.

Fenomena kesembuhan ajaib ini juga pernah terjadi di Manado, yang dilakukan oleh seorang anak kecil bernama Selvin di desa Meko. Seperti yang pernah terjadi, di Ambon ini pun mukjizat seperti orang lumpuh berjalan dan orang buta melihat benar-benar terjadi. Penyembuhan yang dilakukan oleh Pieter ini benar-benar gratis, dan tidak dipungut biaya apapun.

Apakah ini benar-benar dari Tuhan atau seperti fenomena dukun cilik? Hal inilah yang harus diuji oleh setiap orang percaya. Namun satu hal yang perlu kita camkan bahwa nama “YESUS KRISTUS” berkuasa, jika Anda percaya kepada-Nya dan berdoa dalam nama-Nya maka percayalah bahwa mukjizat dapat Anda alami.

(Sumber : Reformata)